Hidup Itu Pilihan

Hidup itu pilihan. Hidup itu berjuang.

Berjuang, bertahan.

---

Entah ide apa yang merasuki otak di akhir tahun 2020 ketika gue meminta dalam doa: Tuhan, aku ingin kenal orang ini.

At that time, gue sadar bahwa keinginan untuk punya pacar sangatlah besar. Lepas dari crush yang satu--yang menolak gue, berpindahlah gue pada crush lain yang ternyata diberi kesempatan untuk bekerja bersama dalam beberapa pelayanan.

God allows me to have it. To have the experiences of knowing him better (terlepas dari orang ini sadar atau engga gue perhatiin dari jauh).

Tapi makin ke sini, gue merasa ada sesuatu yang gak sehat. Salah satu pemicunya adalah bahwa kesempatan yang ada hanya mengizinkan gue untuk mengenal dia sebatas lewat percakapan dunia maya. Momen pelayanan bersama ternyata hanya membuka sedikit sekali ruang untuk gue bisa bercakap-cakap dengannya; entah karena waktunya gak ada, atau guenya yang terlalu salah tingkah/malu/takut ketahuan gue ada apa-apa ketika bertemu langsung tatap muka.

Alhasil, dengan percakapan media digital yang sungguh amat terbatas, konflik dan salah paham pun terjadi. Terlebih dari sisi gue yang sungguh amat bias melihat kondisi dan situasi tak lagi logis tapi sudah tercampur dengan perasaan. Kecewa. Sedih. Menyesal. Menyesal kenapa perasaan ini harus ada dikala sedang ada pekerjaan serius yang tengah dikerjakan bersama.

Doa yang terucap di akhir tahun 2020 kini menjadi penyesalan.
Tau gitu gak usah minta.
Tau gitu gak usah doain.
Tau gitu gak usah usaha.
Tau gitu gak usah sering reach out duluan.
Tau gitu gak usah ngarep.

Kenapa menyesal? Seandainya perasaan ini gak ada, mungkin gue akan lebih santai dan biasa-biasa aja dalam berteman.
Mungkin gue gak akan ngegas atau panik ketika ketemu konflik sama dia.
Mungkin gue gak akan dibalut rasa bersalah.
Mungkin gue gak perlu kepikiran yang gimana-gimana.
Dan mungkin gue gak perlu sampe menjauh dan menghindar seperti sekarang ini.
I think everything's ruined. Gak berjalan smooth sesuai ekspektasi gue di awal.

He's a good guy. Gue hanya tidak mengenalnya dengan baik.

He may never know or realize (well I don't think he should...gue bukan orang penting di hidupnya juga. Gue bukan siapa-siapanya), that I often find myself confused, cried alone in my room, feeling clueless. I often cried out loud to God because I don't know what to do.

I'm done trying!
Gue udah berusaha dan belajar membuka diri, membuka hati, membiarkan diri gue untuk dikenal secara aman dan ingin menjadi tempat yang nyaman juga untuk dia bercerita jika dia ingin, tapi...entahlah.
He never realize that I often senyam-senyum bego kalo dapet notif reply-an instagram story atau whatsapp story dari dia. Meskipun kadang balesannya suka aneh, absurd, kurang dimengerti, tapi gue mencoba untuk tetap merespon apa adanya.
Ada kalanya gue jawab seadanya karena gue bingung mau bales apa, ada kalanya gue mencoba menyambung obrolan supaya 'keep connect'--but last time was very disappointed one karena ends up dengan pertanyaan gue yang hanya dibaca dan tidak dibalasnya.
How embarassing for me! TAU GITU KAN GAK USAH GUE PANCING. TAU GITU GUE GAUSAH NANYA-NANYA! 😭😭😭😭😭

Mungkin salah di guenya yang berekspektasi.
Mungkin salah di guenya karena gue ngerasa I found someone who share the same interests as mine, same concerns, tapi gue mikir ya kesamaan-kesamaan ini gak mengharuskan dia untuk menyukai gue juga. Engga, gak harus.

Gue pikir kita bisa nyambung, tapi ternyata ngga juga.

---

Menyukai seseorang yang gue kenal dari lingkungan persekutuan yang baik dan sehat menjadi mimpi besar gue untuk bisa tercapai dalam konteks berelasi. Tapi realita ini membukakan mata gue bahwa bahkan tetap aja akan ketemu hal-hal yang mengecewakan karena gak sesuai ekspektasi. Akhirnya terciptalah sebuah gap/ruang hampa yang kosong antara ekspektasi pribadi dengan realita. Dari sinilah tercipta penyesalan dan kehampaan yang menjadi trigger utama kesedihan gue beberapa bulan belakangan.

Melayani bersama, even dalam waktu yang panjang, tak menjamin menciptakan relasi yang dekat juga dengan orang yang diharapkan. Bahkan untuk konteks berteman juga demikian.

Penyesalan, ruang hampa, kesedihan, penyesalan, ketakutan, udah seringkali gue bawa dalam doa. Berkali-kali gue nangis dan minta tolong sama Tuhan supaya gue kuat menghadapi fenomena ekspektasi yang gak ketemu sama realita ini. Tapi hingga detik gue nulis blog ini dengan hati yang juga masih sedih, gue rasa Tuhan belum memberikan jalan atau jawaban atas penyesalan serta kebingungan gue. Tuhan masih mengizinkan gue untuk datang pada-Nya dengan tangisan kebingungan dan rasa sesak karena apa yang gue hadapi dalam realita.

---

Memasuki 2023, sebuah komitmen kecil gue buat demi gue memperoleh damai sejahtera yang sejati dalam Tuhan. Salah satu hal konkrit adalah gue perlu berjarak dengan persekutuan yang selama ini sering gue terlibat. Gue menolak beberapa pelayanan yang sudah ditawarkan ke gue karena gue perlu menjauh dulu. Termasuk menjauh dari dia yang memang sudah jauh. Gue perlu mengisi waktu-waktu gue untuk benar-benar berdiam diri di hadapan Tuhan, mendengar arahan-Nya, mendekatkan diri dengan Firman-Nya, termasuk lewat suplemen buku-buku yang gue punya dan belum gue baca (ow, he gave me some ebooks btw, dan belum selesai gue baca juga).

Di dalam pikiran gue yang ruwet, gue berkali-kali "memaki": gue kecewa! Buat apa gue berusaha cari partner dari komunitas kresten atau persekutuan tapi tetep aja mengecewakan. Tetep aja gak sesuai harapan.

Tapi gue mencoba berpikir ulang: menyalahkan kondisi eksternal gak akan pernah ada habisnya. Menyalahkan diri sendiri juga gak akan pernah ada habisnya.
That's why, gue meminta pada Tuhan kalo perasaan ini bener dari Dia, tolong bukakan jalur yang sehat. Tapi kalau doa gue tahun 2020 itu ternyata salah, tolong bantu gue untuk let go dengan baik dan gak usah berharap apa-apa lagi.

So I'm trying the way: menjauh.
And it ends today. Gue ngerasa memang gak sehat mengerjakan sebuah pelayanan bersama orang yang lo suka. It distracts a lot. Bias. 

---

Last time I confess my feeling to a guy I like, I've got rejected. I commit myself not to do the thing again. Tapi berhubung gue suka nulis, dan entah mengapa lebih lega dengan menulis, I will pour something here regardless of he will read this blog or not (God will knows, and the only thing I can do is just surrender):

Ini pertama kalinya gue memilih seseorang untuk gue doakan.
Ini pertama kalinya gue memilih ingin mengenal seseorang bukan karena lo udah baik sama gue, bukan karena lo udah ngasih buku ke gue, bukan karena lo beberapa kali ngajak ngobrol di chat sehingga gue baper, no. No, bukan itu. Sama beberapa crush sebelumnya sih emang cenderung gitu: baper karena kebaikan si cowonya; yang padahal belum tentu juga dia baik = dia suka sama gue.

Tapi sama lo beda prosesnya.

Jauh sebelum itu, gue udah minta Tuhan untuk mencoba kenal lo. Gue memilih untuk mendoakan meskipun motivasi awalnya hanya sebatas "gue pengen kenal dia, Tuhan". Dan doa gue dikabulkan.

Hanya, gue bergelut dan bergumul dengan diri sendiri. Bergumul dengan ekspektasi dan pikiran-pikiran dari seorang perempuan yang juga bermasalah di dalam dirinya.
Namun makin ke sini, gue makin gak nyaman dengan kebingungan yang gue rasakan. Of course gue gak bakal menanyakan hal-hal terkait relasi sama lo karena gue setakut itu untuk ditolak lagi. I won't say anything to you about this. Dan mungkin level pertemanan kita juga belum sampai deket yang gimana kan. Paling cuma sebatas random gak jelas di chat aja, ya kan?
I'm so sorry kalau gue terlalu berisik, terlalu bawel, terlalu banyak nanya. Itu sebuah upaya memberi kesan bahwa gue nyaman ngobrol sama lo--meskipun hanya di chat. You might realize that gue kalo ketemu lo pasti diem-diem bego, kan? Katanya cowok makhluk yang gak pernah peka, tapi yah gue mencoba beriman lo bisa aja peka. Dan jikapun lo peka, bagian gue tetap menunggu kan.

I don't know what to say anymore. Gue juga gak ngerti kenapa Tuhan izinkan gue mengalami proses dan perjalanan ini. There must be something He wants to teach me, but I can't understand it until now.
Tapi...gue yakin bukan suatu kesalahan Tuhan membuat gue menyadari keberadaan lo untuk yang pertama kalinya di hari Jumat, 24 Juli 2020 meski cuma dari layar kaca.

Gue masih memproses apa yang gue rasakan, kekecewaan dan kesedihan yang gue alami, tidak menyangkal rasa senang dan senyam-senyum bego saat notif dari lo masuk di hape gue, dan...yah senang mengenal lo, Bang (meski kadang ngeselin dan gak jelas). Thanks yah :)

***

Comments

Popular posts from this blog

Belajar dari Film "Monsters University": Dari Saingan Jadi Rekan

Hidup Menjadi Seorang Perempuan INFJ