Posts

Showing posts from 2022

A Request for Forgiveness and Freedom (Dealing with Regret & Shame)

This morning I realize that I'm on the phase of dealing-with-regrets-and-shame. I've re-written my old story here , dan tersadar bahwa: buset, udah berapa kali cerita ini gue tulis di mana-mana? Ini ada apa? Kenapa masih aja keinget? Isunya ternyata ya ada di efek jangka panjang itu. Efeknya membuahkan sebuah penyesalan dan rasa malu yang berkepanjangan. Gue udah totally move on. Udah ada yang baru juga bahkan. Tapi justru kehadiran "yang baru" ini yang menyadarkan gue bahwa gue belum kelar dengan penyesalan dan rasa malu akibat apa yang pernah gue lakukan di masa lalu. So, this morning I'm trying to ask God sincerely to heal and take my regrets & shame, and ask for forgiveness. I need His help to forgive myself, to forgive my failure, to forgive my stupidity. --- Lord of Heaven & Earth, I'm ready to accept Your forgiveness I'm ready to forgive myself I'm ready to admit that I feel the long-term effect of regrets & shame I'm ready to be

Kejujuran: Sebuah Luka dan Bayar Harga—Para Cewek Pikir-Pikir Lagi Kalo Mau Menyatakan Perasaan, Hehe

Image
Peristiwa penolakan yang terjadi di masa lalu ternyata bukan hanya sebatas menimbulkan luka dan trauma, melainkan perubahan pola pikir; khususnya dalam konteks bagaimana diri sendiri menilai serta memandang diri sendiri. Tulisan ini aku dedikasikan khusus buat para cewek-cewek yang mungkin konteksnya saat ini lagi suka sama cowok. Tapi memang hati-hati, jangan sampe tulisanku ini langsung dijadikan best practice  tanpa melihat bahwa setiap kita (khususnya para cewek) itu punya karakter, kepribadian, pola pikir, dan respon yang berbeda ketika menghadapi fenomena yang sama: menyukai seseorang dari kaum Adam. --- Menyukai teman lawan jenis itu bisa gue bilang sebuah anugerah ya. Itu berarti kita diciptakan memiliki emosi, perasaan, dan bukan sebagai ras robot yang segala sesuatunya lempeng-lempeng aja gitu. Dalam perjalanan dan petualangannya, kita para cewek pasti punya kisah dan cerita masing-masing ketika ada di fase ini. Balik lagi: characters matters . Ada yang easygoing  santuy-mant
So...there are things you can't control, right? I often told myself to "trust your gut!", tapi kadang ragu juga itu beneran insting atau cuma insecure. Di sisi lain, positive thinking pun punya konsep yang berbeda dengan mempositif-positifkan kondisi yang memang tidak positif. But whatever it is...the only thing I can put my trust and faith now is only The Owner of Heaven and Earth. Almighty GOD. I will keep going, doing my best in everything I can do, then I'm allowing God to do His part in my life. Surrender...is the key to truest joy and serenity.
Accept it is as it is. Nasehat utama dari psikolog yang pernah gue konsultasiin. Sedang berlatih pelan-pelan untuk menerapkan mindfulness  dan gak perlu melulu menilai kondisi, situasi, dan orang lain terlalu cepat. Ini kayaknya esensi dari "menikmati hidup". Bukan artinya hidup lurus gatau mo kemana, tapi ya enjoying the present as a present. Seringkali yang bikin jatuh adalah ekspektasi. Jadi ketika gue udah bikin perencanaan dan rencana itu gak sesuai realita, usaha terasa sia-sia. Nah sekarang, gue mau coba untuk bangkit lagi, tetep bikin perencanaan lagi, tapi lebih legowo aja kalau hasilnya gak sesuai ekspektasi. Yang penting udah ada usaha. Kayak...ya yaudah. Ayo, maju terus. Melangkah lagi. Kalo capek istirahat. Kalo sedih nangis. Mungkin ini bisa jadi terapi diri sendiri yang baik untuk mengurangi intensitas rasa insecure dan FOMO yang seringkali mengganggu 😔

Emangnya Gue Se-Ngegas Itu?

Image
Sebenarnya gak nyari yang sempurna juga. Apalah arti sempurna ketika gue juga bukanlah seseorang yang sempurna. Yang dicari adalah dia yang gak main-main sama hati perempuan. Ya..memang gue pribadi gak bisa tahu dan gak bisa bedain (dan gak bisa peka, to be honest ) mana yang memang motivasinya main-main, mana yang lagi cek ombak, mana yang 'sok asik' dan seru padahal memang dari sananya udah begitu (maksudnya ya gak berarti dia suka sama gue juga), mana yang memang ya tulus mau berteman. Cenderung polos, tapi gak bego. Tapi somehow bisa peka juga. Hahaha sebenarnya males sih ya kalo udah bahasan yang gini-gini lagi. Gue sadar gue dianugerahi kepekaan, tapi terakhir kali gue peka, dan ternyata kenyataan tidak sesuai ekspektasi, hancurnya banget-banget. Salah tafsir. Udah seneng banget ternyata ni orang mau berteman sama gue dan terbuka juga sama kisah hidup masing-masing (meski gak semua ya, seengganya gue dapet sense bahwa gue dipercaya sama cerita-cerita dia. Itu aja udah sen
Cukuplah kasih karunia-Nya bagiku, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Nya menjadi sempurna. -Paul

I Quit

Image
Berhenti. Berhenti untuk menganggap bahwa diri ini mampu mengerjakan segala sesuatunya tanpa batas. Berhenti untuk punya pemikiran bahwa diri ini tak layak mendapat pertolongan. Berhenti untuk memaksakan diri terlalu keras untuk melakukan hal-hal yang memang sudah di luar batas dan kemampuan. Berhenti untuk menilai diri, "Lo masih kurang berusaha, Mei. Resiliensi lo rendah. Jangan lemah!" Sampai akhirnya...dirinya lelah. Nyatanya, diri ini memang lemah. Helpless. Powerless. Gak punya daya dan kekuatan apa-apa untuk mengontrol hidup bahkan untuk hal sekecil apapun. Nyawanya sendiri pun gak ada dalam kontrol tangan sendiri. Yang bisa dilakukan sebenarnya hanyalah melakukan tanggung jawab kehidupan sesuai porsi, kapasitas, dan bersandar pada Lengan yang Kekal. Semudah itu? Enggak. Bayang-bayang kehidupan yang sudah di- framing sedemikian rupa dalam kepala nyatanya hanya menciptakan sebuah ilusi bahagia yang tak terealisasi. Menciptakan asumsi yang tak terverifikasi. Mendatangkan
Being (too) independent is dangerous, somehow. Lord of Heaven and Earth, help me to recognize Your guidance and help me to encounter the loneliness.

A Short-Sunday Reflection

"Tuhan selalu hadir untuk kita, Tuhan selalu menolong kita. Meskipun tentu cara-Nya tidak selalu sama seperti yang kita mau." Kata-kata dalam doa yang di- mention  sama pak pendeta ini bikin gue tiba-tiba berlinang air mata. Gak biasanya gue berdoa pas ibadah Minggu di gereja sampe nangis; tapi kali ini denger 2 kalimat itu langsung basah pipi gue. Why? "...tentu cara-Nya tidak selalu sama seperti yang kita mau." Lebih mudah percaya kalau Tuhan pasti akan menolong kita, tapi butuh bergumul dan merenung kembali (bagi gue pribadi) untuk percaya bahwa jenis pertolongan Tuhan gak sama dengan ekspektasi/harapan gue. --- Lately gue lagi belajar lagi tentang memasang ekspektasi. Dari tahun ke tahun gue sering dapet pelajaran berharga terkait ekspektasi pribadi terhadap berbagai hal. Seringkali, ekspektasi ini membuat gue jadinya membuat 'skenario hidup' sendiri yang menurut gue itu terbaik buat gue. Sampai pada tahap yang lebih ngotot ya gue jadi ngerasa "renc

Belajar dari Sebuah Kondisi Saat Kita yang Bukan Pegang Kendali

Image
Salah satu challenge jadi pemain musik untuk kegiatan ibadah/gereja adalah: pamer skill. Kalo bukan pamer skill, seenggaknya pasti ada perasaan atau pemikiran yang pernah terbesit seakan-akan permainan musik yang dilakukan itu buat "konser"; to showing off that we can play the music well. Zero mistakes. Smooth composition-intro-ending-bla bla bla. Butuh waktu yang gak sebentar bagi gue pribadi untuk berproses dalam hal ini. Dimulai dari masa-masa ikut persekutuan di kampus, sampai sekarang udah umur nearly 30 masih diminta tolong jadi pemusik tuh gue tetep ngerasa I'm still on the process; untuk punya mindset dan pemahaman bahwa: "Lu main musik bukan buat konser, cuy. Peran lu gimana caranya komposisi musik yang dimainkan—mau seheboh atau sesimpel apapun aransemennya—bisa 'mengantarkan' jemaat nyanyi dari hati buat nyembah Tuhan." Apalagi dalam konteks main musik buat ibadah/gereja ya. Gak gampang, I know. Hahaha. Sebuah proses yang panjang untuk seorang
"Nggak usah takut salah dulu. Kita pasti salah." Sebuah encouragement terhadap diri sendiri bahwa...ya ngapain takut salah ketika ketakutan itu membatasi ruang gerak kita untuk melangkah dan berkarya. Maju aja dulu. Berkarya aja dulu. Along the way pasti akan ada kesalahan toh? Setidaknya, udah melangkah. Daripada gak bikin apa-apa. (Meista, dari balik meja 😅🤣)
Tuhan Yesus, pengen lanjut kuliah S2. Amin.

7 Tahun Kerja, Udah Ngapain Aja? (part 2)

Image
Beberapa hari lalu gue sempet nulisin 3 poin pembelajaran besar yang gue dapetin sepanjang berkarir selama kurang lebih 7 tahun. Cek tulisannya dimari ya 😉 Nah, kali ini gue mau coba tambahkan beberapa poin reflektif gue lagi yang semoga bisa meng- encourage teman-teman khususnya para fresh graduate yang baru mau mulai cari pekerjaan. Tapi sebelum itu, gue mo bikin disclaimer dulu nih, hahahah. --- Di postingan gue sebelumnya, gue share bahwa gue itu jadi job-hopper selama beberapa tahun belakangan ini. Mungkin beberapa dari kalian bisa muncul pertanyaan di kepalanya macem: "Emang boleh ya lompat-lompat kerjaan gitu?" "Kalo job-hopping gitu bukannya bikin CV dan LinkedIn jadi gak bagus ya?" "Seharusnya kita itu loyal atau enggak sih Kak sama tempat kerja kita?" Nah, zuzur sezuzur-zuzurnya, gue gak bisa menghitam-putihkan boleh enggaknya kita melakukan job-hopping  alias loncat-loncat pekerjaan. Tapi juga...gue tidak bisa memastikan apakah loyal kepada te

7 Tahun Kerja, Udah Ngapain Aja?

Image
15 Oktober 2015 ...itu hari pertama gue menjejakkan kaki di dunia kerja setelah lulus kuliah di bulan Agustus 2015. Apa aja pelajaran yang didapetin selama bekerja kurang lebih 7 tahun akumulatif? Well, di sini gue cuma bisa sampaikan bahwa kasih setia Tuhan itu long last adanya. Sisanya, ada cerita jatuh-bangun dari seorang Meista yang seringkali struggling dengan dirinya sendiri, dan dengan kehidupan yang seringkali sulit dipahami. This is my story. I'm pretty sure you guys have one, too! 😊 *** Gue mau coba spill secara subyektif apa-apa aja pelajaran yang gue dapetin sepanjang 7 tahun berkarir di dunia profesional dengan role yang benang merahnya kelihatan tapi industrinya macem-macem. Gue passionate banget sama dunia komunikasi. Apalagi sekarang digitalisasi udah maju banget. Berkomunikasi secara digital pun menjadi salah satu kesukaan gue sekarang. Nah, beruntungnya, ranah komunikasi ini memang bisa masuk ke marketplace mana aja. Itulah yang bikin gue jadi job-hopper selama b