Melihat Ulang Tahun Dari Sudut Pandang Berbeda

Photo by Lidya Nada on Unsplash


(Tulisan ini tayang pertama kali di Instagram Story @meista_yuki pada rubrik highlight 'Story Series')

---

Ulang tahun.

Tahun yang berulang(?)

Sebuah pengulangan dari tahun(?)

Orang Indonesia sering bilangnya: 'pertambahan usia'.

Kalo di bahasa Inggris istilahnya: BIRTHDAY.

Birth = kelahiran
Day = hari
Birthday = hari kelahiran.

Lha emang bisa hari kelahiran diulang-ulang?

Sebenarnya ulang tahun tuh apa sih?

Perayaan?

Atau cuma budaya?

Atau jangan-jangan cuma dongeng buatan rangorang kreatip?

---

Dapet kado yang banyak.

Ngerayain pesta pake baju yang bagus.

Dihadiri sejumlah orang-orang pilihan yang disayangi disenangi.

Bersenang-senang, itu intinya.

Sebuah harapan dan keinginan dari seorang perempuan yang minderan, rendah diri, temennya dikit, dan kadang ngerasa gak berguna ada di dunia ini.

Sebuah harapan dan keinginan yang terpendam at least sampai dia berusia 17 tahun.

---


17 Mei 2010 mungkin jadi hari terburuk sepanjang masa mudanya.

Di saat harapan dan impian mengalami apa yang orang-orang bilang 'sweet-seventeen' itu menyenangkan, apa yang dia alami justru sebaliknya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia berusaha kabur dari rumah.

Ada perseteruan hebat terjadi di rumahnya.

Padahal dia mengira hari itu akan jadi hari paling menyenangkan seumur hidupnya.

Bukan, bukan orang tuanya yang bertengkar, tapi ada anggota keluarga yang...well, let's say cari gara-gara sampai bikin emosi tuan rumah.

Tak tahan mendengar semua keributan itu di hari yang (menurutnya) spesial, dia mencoba kabur dari rumah.

Bodohnya, dia gak bawa apa-apa.

Gak bawa duit juga bahkan, minimal buat jajan di warung terdekat kan bisa ya harusnya.

Akhirnya dia cuma kabur sampai depan komplek.

Eh bawa hape juga deng.

Makanya gak berapa lama keluar rumah, mamanya nelepon dan minta dia untuk pulang.

Mamanya nelepon sambil nangis gara-gara berseteru parah dengan si anggota keluarga tersebut.

Dan gak nyangka juga kalo si anak sulungnya bakal senekat itu.

Pokoknya si anak sulung pulang, ikut ibadah syukur ulang tahun yang dihadiri oleh jemaat dewasa dari gerejanya (bukan dihadiri oleh teman-teman seumuran seperti yang dia harapkan) dan...ya bagi dia hari spesialnya hancur sudah.

Sweet-seventeen is a bullshit for her.

Birthday is somehow just a nonsense at all.

---

Photo by Jason Leung on Unsplash


Tahun demi tahun berganti dan si perempuan muda ini mulai beranjak dewasa.

Begitu banyak fase yang ia lewati sampai membentuk karakternya sedemikian rupa.

Dengan pengalaman buruk terkait sweet-seventeen-nya yang kandas, dia perlahan-lahan belajar sesuatu terkait makna dari ulang tahun.

Tanggal 17 selalu berulang setiap bulan; dari Januari sampai Desember.

Bulan Mei selalu berulang setiap tahun.

Tapi cuma tahun yang enggak akan pernah terulang.

Tahun 2000 berganti jadi 2001, berganti lagi jadi 2002, terus berganti sampai sekarang kita tiba di tahun 2020.

Tapi cuma usia juga yang enggak akan pernah berulang.

Malah secara matematika bertambah.

Dari usia baru lahir, setahun, 2 tahun, 3 tahun, 15 tahun, 17 tahun, 20 tahun, dst.

Jadi apa dong yang bikin ulang tahun itu seru?

Buat dia, hari ulang tahun adalah hari yang dianugerahkan Tuhan yang juga menganugerahkan dia hari-hari lain selain tanggal 17 Mei.

Dia tiba pada pemahaman bahwa: untuk apa mengharapkan hal spesial terjadi di setiap tanggal 17 Mei, ketika Tuhan mengizinkan hal-hal spesial di hidupnya terjadi di tanggal lain?

Bisa diterima di salah satu universitas negeri, misalnya.

Itu tidak terjadi di tanggal 17 Mei.

Hari di mana ia dinyatakan lulus sidang Tugas Karya Akhir hingga hari wisuda dan dinyatakan jadi sarjana, juga tidak terjadi di tanggal 17 Mei.

Lalu masih buanyaaakkk lagi hal-hal spesial terjadi di hidupnya namun itu gak selalu terjadi setiap tanggal 17 Mei.

Tidak selalu terjadi di hari saat usianya secara matematika bertambah.

Toh setiap dia memasuki usia yang baru, segala hal di luar hidupnya tetap berjalan normal seperti biasa:
  • matahari tetap terbit di timur tenggelam di barat
  • bumi tetap berputar pada porosnya selama 24 jam
  • tidak ada yang berubah dengan kemacetan Jakarta
  • permasalahan korupsi di Indonesia tak kunjung usai
  • ayam tetap melahirkan dengan bertelur dan kucing tetap melahirkan dengan beranak
  • mereka yang ditinggal orang yang dikasihi pada tanggal tersebut tetap akan merasa sedih dan kehilangan. Mereka tak akan merasa hari itu hari yang spesial malah.
Bagi orang-orang atau hal-hal di luar kehidupannya, tanggal itu bukanlah menjadi tanggal yang spesial.

Jadi kenapa dia sempat terpikir bahwa orang lain harus melihat tanggal itu spesial juga?

Well, mungkin ini terdengar skeptis.

Mungkin kalian jadi kasian atau malah mencibir kisah si perempuan ini.

Mungkin kalian menilai dia pathetic.

Hidupnya menyedihkan.

It's okay.

Gue juga ngerasa sepertinya dia mulai skeptis sama yang namanya 'ulang tahun'.

Tapi satu hal yang gue pahami adalah bahwa karakter dia bisa bertumbuh bukan karena hidup dalam keadaan yang 'selalu baik-baik saja'.

Dia belajar banyak hal dari runtuhnya ekspektasi, kekecewaan, semangat yang patah, disakiti dan dikhianati oleh sesama, tidak dihargai oleh orang yang ia kasihi, dan masih banyak lagi.

Dan ketika orang diperhadapkan dengan berbagai hal sulit, orang itu pasti punya pilihan kan?

Mau bertahan sambil menghadapinya supaya jadi pribadi yang lebih baik, atau menyerah/ngotot tak terima dengan kenyataan lalu menjadi pribadi yang menyedihkan?

Seringkali si perempuan ini milih opsi kedua, tapi lagi-lagi dengan pertolongan Tuhan yang sangat mengasihi dia, seseringnya opsi pertama diambil meski rasanyaaaaaa hidup kayak hancur berkeping-keping.

---

Sekarang, setiap tanggal 17 Mei merupakan tanggal yang ia gunakan untuk mengucap syukur (ya sama sih kek hari-hari lainnya juga dia mulai dengan bersyukur), dan berefleksi; merefleksikan apa saja yang sudah terjadi sepanjang tahun, apa yang dia pelajari, apa yang sedang dipelajari, apa saja yang disyukuri, gitu-gitu lah.

Dia ini anaknya pemikir dan cukup interest dalam hal membuat digital content.

Jadi sambil berefleksi, biasanya dia tuangkan dalam bentuk tulisan blog atau konten Instastory kayak yang dia lakukan saat ini.

---



Yep, that's me.

Seorang cewek yang mulai skeptis dengan konsep 'ulang tahun' karena kekecewaannya di masa lalu.

Tapi gakpapa, gue justru bersyukur.

Kenapa?

Karena gue jadi paham bahwa Tuhan gak hanya menganugerahkan gue 1 hari dalam 1 tahun, tapi 365 hari dalam setahun--bonus jadi 366 hari kalo lagi tahun kabisat--untuk gue syukuri dan nikmati segala ups & downs-nya.

Untuk gue nikmati segala hal yang spesial dan hal yang pahitnya.

Untuk gue pelajari setiap hal-hal yang terjadi dan berlalu di hidup gue.

Untuk gue syukuri dan nikmati segala hal yang gue punya dan gak pusing sama hal atau seseorang yang enggak gue punya; sambil terus belajar bahwa I'm not the only one who lives in this world.

There's other people, too.

Live with them as well!

---

Yaaassshhh today I'm turning 27 and I'm so grateful for everything. Yes, everything. But above all, I want to give the highest praise and thanksgiving to The One Who never leave my side; The One Who gives me a life; The One Who created me as a perfect creation among all creations; The One Who loves me no matter how sinful I am; The One Who I call: JESUS.

Grace alone. Hanya karena kasih karunia.

- 17 Mei 2020 -

Comments

Popular posts from this blog

Lagu yang Tak Hanya Menyentuh Hati, Tapi Sampai Menyentuh Jiwa

Hanya Bisa Tersenyum Miris

KPM Perkantas 2018: Nimbrung Jadi Keyboardis Eh Dapet Pelajaran Manis

Belajar dari Film "Monsters University": Dari Saingan Jadi Rekan

KISAH SAHABAT (bukan judul film)

Pengalaman Ikut Seminar Acara 2019 by Perkantas - Kembali "Ditabok", Gaes!

GFRIEND COMEBACK 2018: Time For The Moon Night

Kisah Horror Sepulang Nonton Kahitna

Apakah Relasi dengan Sesama Bisa Menjadi Berhala?

Welcome, Dua Puluh Enam!