A Deep Grief, A Great Bless (part 1)

Photo by Zwaddi on Unsplash

Hai!

Bertemu lagi dengan gue yang kembali nulis di blog setelah sekian lama gak mencurahkan isi hati atau berbagi pengalaman menarik.

Hehe.

Kali ini, gue mau cerita tentang apa yang gue alami dan nikmati di weekend yang lalu.

Tepatnya ketika gue mengalami sebuah peristiwa campur aduk yang gak bisa gue ungkapkan dengan kata-kata.

Tapi berhubung ini blog dan pastinya penuh dengan kata-kata, gue coba usahakan untuk bercerita dengan baik ya.

Semoga jadi berkat!

Dan teteup, dari keseluruhan cerita yang akan gue sampaikan: to GOD be the glory!

Happy reading, guys! 😘

-----

Rabu, 19 Juni 2019

Hari itu adalah kesempatan terakhir buat gue dan rekan-rekan pelayan mimbar latihan musik dan alur ibadah untuk acara Kamp Tahunan Alumni XIV (KTA XIV).

Yes, gue kembali terlibat di sebuah pelayanan Perkantas, setelah sebelumnya gue juga dilibatkan di Kamp Pengutusan Mahasiswa (KPM) 2018 dan Seminar Acara 2019 (bisa diklik linknya kalau mau baca cerita gue ya, gaes 😉).

Berhubung hari Rabu itu adalah hari terakhir kami bisa latihan--karena di hari Kamisnya si alat-alat harus udah dibawa ke tempat acara, yaitu Wisma Kinasih--, jadi latihan pun dilakukan se-pol mungkin.

Hal ini berimbas pada jam pulang yang memang sangat larut malam.

Biasanya batas maksimal jam pulang kami saat latihan-latihan sebelumnya hanya sampai jam 22.00, tapi khusus di hari Rabu kemarin kami bisa sampai jam 22.30 kalo gak salah.

Tapi yaudah, namanya juga memperjuangkan sebuah kualitas pelayanan.

Pasti ada "harga" yang harus dibayar.

Salah satunya waktu.

---

Seperti biasa, gue selalu dijemput bokap setiap habis latihan musik di sekret Perkantas yang ada di Pintu Air, Juanda.

Intermezzo sedikit, mungkin kalian ngeliat ini agak aneh (atau kalo kalian ngeliat ini biasa aja ya puji Tuhan, hehe).

Meski saat ini gue sudah menginjak usia 26 tahun, percaya atau enggak gue memang masih sering dijemput sama bokap gue kalau pulang larut malam.

Dijemputnya bukan pakai kendaraan pribadi.

Kami sekeluarga memilih untuk tidak memiliki alat transportasi pribadi, dan lebih memilih menggunakan transportasi umum atau pribadi-umum kayak transportasi daring, contohnya: GO-JEK, Grab, you name it.

Alasan kenapa bokap gue masih semangat untuk jemput gue tiap gue pulang larut malam karena:

1. Gue pernah kejambretan pas pulang larut malam habis nonton Kahitna manggung di Sudirman. Sejak saat itu bokap gue cukup hati-hati juga kalo tau gue pulang larut malam.

2. Bagi dia, gue tetap putri kecil kesayangannya (begitu juga adik gue). Dan dia pernah berkomitmen seperti ini:

"Ya sampai kamu nanti jadi istri seseorang, papa gak akan capek jemput kamu terus kalo pulang malam."

Awalnya gue sempat risih sih kalo dijemput terus kayak gini.

Bukan cuma risih karena gue ngerasa 'Udah 20 tahun lebih masih aja dijemput orang tua', tapi karena gue juga khawatir sama kesehatan si bokap.

Beliau udah gak muda lagi gitu kan.

Cuma pas menyadari 2 hal itu, dengan kedewasaan yang Tuhan anugerahkan, gue jadi bisa terima.

Dan gue juga melihat memang Tuhan masih berikan beliau stamina pria berusia 20 tahun di saat usianya sebentar lagi masuk ke kepala lima.

---

Di hari Rabu itu gue sampai rumah sekitar jam 23.30-an.

Di situ rasanya gue super capek, badan rasanya remuk, ngantuk tak tertahankan, gak tau lagi gimana caranya besok bisa bangun pagi dan berangkat ke kantor jam 7.

Pas sebelum tidur gue sempet kepikiran kayak: ini apa harusnya gue nginep aja ya di Perkantas...secara kantor gue dari Pintu Air cuma 5 menit ngegojek.

Tapi kan yakali... 😅

Akhirnya hari itu gue tutup dengan doa sebelum tidur dan bobok sambil dengerin rekaman latihan terakhir hari itu.

Tanpa ada firasat apapun tentang peristiwa yang terjadi keesokan harinya.

-----

Kamis, 20 Juni 2019


Photo by Ruben Hutabarat on Unsplash

Hari itu gue bangun sekitar jam 5.00 pagi.

Bukan karena alarm atau karena udah biasa bangun pagi, tapi karena ya kebangun aja.

Biasanya gue memang mengalami susah tidur kalau pikiran gue "berisik".

Mikirin: ini gimana ya mau ngirim rekaman latihan banyak bener...

Mikirin: hari ini menu apa aja ya yang mau difoto...

Mikirin: ngeposting konten apa aja ya hari ini di Facebook sama Instagram...

Iyah, gue emang overthinking anaknya.

Inilah salah satu kelemahan gue.

Segala sesuatu itu pasti dipikir secara berlebihan.

Jadi gampang stress atau susah tidur.

Cuman akhirnya gue coba tenangin diri dan pikiran dulu, dan gue mulai hari itu dengan doa pagi seperti biasa.

Tiba-tiba, gue denger nyokap kayak lagi ngomong gitu di telepon.

Gue agak insecure sih kalo denger orang tua gue dapet telepon pagi-pagi subuh gini.

Biasanya ada kabar duka atau apa gitu kan, jadi takut gue.

Tapi dari nada bicaranya mama kedengarannya sih biasa aja.

Setelah beliau tutup telepon, gue tanya lah, "Telepon siapa, Ma?"

"Ini dari Bieteh, katanya MaAgeung merem tapi kayak gak tidur."

Hah?!

Oke sebentar, gue perjelas dulu beberapa hal.

Nyokap gue orang Sunda asli.

Jadi beberapa panggilan di dalam keluarganya nyokap itu memang sangat Sunda-ish.

'Bieteh' adalah singkatan dari 'bibi' dan 'teteh'.

'Teteh' adalah panggilan perempuan yang lebih tua.

Biasanya sih untuk kakak perempuan.

Nah, Bieteh ini adalah adik paling bungsunya nyokap.

Jadi, Bieteh adalah tante gue.

'MaAgeung' terbentuk dari kata 'Ma' dan 'Ageung'.

'Ma' = ibu, mother

'Ageung' = besar, great, grand

Jadi secara harafiah, MaAgeung adalah nenek/grandmother gue.

Kurang lebih begini lah ya.

Kalo ditanya sejarahnya kenapa bisa punya panggilan kayak gitu gue juga gak tau, hahaha.

Lanjut.

Gue shock dong dengernya.

Ini maksudnya apa.....

Udah mana pikiran gue lagi "berisik", ditambah info kayak gini, makin "berisik" lah isi otak gue.

Pas di saat gue lagi mikirin hal-hal itu, tiba-tiba Bieteh telepon nyokap lagi.

Kali ini dia panik.

Dia minta nyokap gue dateng ke kontrakannya dan lihat langsung gimana keadaan MaAgeung.

Fyi, nenek gue memang tinggal di Jakarta bersama keluarga kami dan keluarga Bieteh ini.

Kami tinggal sekomplek tapi beda rumah.

Jadi kadang sesukanya nenek gue lagi pengen tinggal di mana.

Kadang di rumah gue, kadang di kontrakannya Bieteh.

Gitu.

Denger adiknya panik, nyokap gue langsung siap-siap pergi ke sana.

Untung bisa ditempuh dengan jalan kaki.

---

Sambil siapin sarapan dan masak air, gue ngobrol sama bokap tentang apa yang terjadi sama MaAgeung.

Ternyata beliau meriang.

Penyebabnya karena dalam beberapa hari terakhir ini nenek gue rajin betul minum minuman dingin.

Panas dan gerah jadi alasan utama beliau.

Hem, baiklah.

Di tengah-tengah obrolan, tiba-tiba nyokap telepon gue.

"Meis, minta tolong suruh papa kesini bawain thermometer sama alat tensi. Sekarang ya."

Gue langsung bilang ke bokap dan bokap juga langsung nyusul ke sana sambil bawa peralatan yang diminta.

Hening di rumah.

Gue duduk aja diem di meja makan sambil gak tau mau ngapain.

Berusaha menarik diri dari kekalutan pikiran dan ketidakpahaman, akhirnya gue sadar gue harus matiin kompor karena airnya udah mendidih.

Puji Tuhan juga gue sadar bahwa gue harus bikin sarapan karena sebentar lagi harus mandi dan berangkat ke kantor.

Sesekali gue bertanya-tanya, "Tuhan, ini gak seperti yang aku bayangkan kan?"

Jawaban doa pun datang tak lebih dari 10 menit.

Bokap tiba-tiba telepon gue.

"Meis, hari ini kamu jangan ke kantor ya."

DEG!

"Hah? Kenapa pa?"

"MaAgeung udah gak ada."

Dan dibalik suara bokap itu gue denger suara nyokap gue yang lagi nangis kejer.

Lalu gue cuma bisa bilang, "Oh...oke pa."

"Kamu stand by dulu di rumah ya. Nanti papa kabarin kalau ada hal yang harus dikerjain."

"Oke pa."

Gue tutup teleponnya dan gue berusaha menghela nafas panjang biar bisa berpikir jernih.

Hal pertama yang gue bisa lakukan saat itu adalah ngabisin sarapan...dan menangis.

Menangis karena kehilangan seorang nenek yang sangat dekat dengan gue dari gue orok sampai sekarang.

Setelah sarapan habis, gue berdoa minta pertolongan Tuhan untuk kira-kira apa dulu yang harus gue kerjakan.

Pertama gue izin dulu via Whatsapp ke bos-bos gue bahwa hari itu gue gak bisa ke kantor.

Terus gue juga izin ke HRD dan temen gue anak desain grafis yang sebetulnya di hari itu gue udah janjian sama dia untuk foto menu.

Tapi berhubung ada kondisi dan situasi seperti ini, semua project di hari itu harus ditunda.

Lalu gue bangunin adik gue yang masih tidur, ngasih tau kabar, dia shock, dan gue ngajak dia untuk sarapan juga.

Gue bilang sama adik gue:

"Hari ini PR kita banyak, dek. Gak cuma urusin kedukaan, tapi kita punya mama yang harus kita kuatin dan papa yang harus kita support juga karena pasti semuanya bakal capek banget. Lu harus sarapan ya, dek."

Singkat cerita, akhirnya adik gue sarapan dan gue mulai beberes rumah sedikit demi sedikit.

Geser-geser barang, beli ini-itu, jadi "humas"-nya nyokap.

Karena kalo ada kedukaan gitu pasti di handphone rame banget ya.

Jadi gue berinisiatif untuk take over hape nyokap biar beliau bisa bebas ngurusin perintilan-perintilan yang perlu diurusin; sementara gue jadi jubir digital menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pihak keluarga, gereja, atau relasinya mama.

Setelah beberapa pekerjaan sedikit terselesaikan, jasad nenek gue pun sudah tiba di rumah gue, beberapa tamu dan tetangga sudah pada hadir, gue istirahat sebentar di meja makan.

Lalu gue pun terpikir akan KTA.

Ini gimana KTA...

Bisa berangkat gak yah gue...

Belom packing apa-apaan, belom latihan lagi...

Dengan perasaan yang lagi kalut dan pikiran yang campur aduk, akhirnya yang bisa gue lakukan hanyalah sharing kabar ke grup Whatsapp.

Gue bilang di grup kalo gue gak tahu ke depannya bakal kayak gimana, dan gue minta tolong bantuan doa supaya gue bisa mengambil keputusan secara bijak.

Entah mungkin gue gak jadi berangkat Jumat alias nyusul Sabtu dan pulang lebih cepat, atau tetap jadi seperti rencana awal gue ikut full, atau bahkan batal sama sekali.

Itu yang gue minta tolong bantu doa dari rekan-rekan sepelayanan di KTA.

(Anyway, terima kasih kalian sudah mendoakanku :") Juga para panitia yang ternyata mendoakanku, terima kasih banyak :") )

---

Puji Tuhan peristiwa kedukaan ini ternyata membawa banyak pelajaran buat gue.

Dalam kesedihan, gue bisa menikmati mengerjakan banyak hal dan juga berelasi dengan banyak orang.

Puji Tuhan gue bisa mengendalikan diri dan emosi sehingga gue juga bisa support mama papa, khususnya mama yang kelihatan terpukul.

Singkat cerita, segala proses berjalan dengan lancar, banyak tetangga dan keluarga yang membantu, bahkan sampai proses pemakaman pun berjalan dengan baik.

Sedih banget gue karena 2 adik nyokap gue yang tinggal di Bandung enggak bisa lihat ibunya untuk yang terakhir kali 😭

Enggak keburu.

Mereka baru sampai malam sekitar jam 8-an, sedangkan nenek gue sudah dimakamkan siang harinya sekitar jam setengah 3-an.

Gue cuma bisa peluk mereka satu-satu pas mereka sampai di rumah.

Oh iya, sebelumnya gue sempat diskusi sama orang tua soal KTA ini.

Gue nanya gimana menurut mereka, apakah gue tetep pada rencana awal atau gimana.

Dan mereka setuju untuk stick to the plan A.

Meskipun ada perdebatan sih di antara mereka juga.

Bokap maunya gue pergi yang kloter malam supaya gue paginya bisa tidur dulu.

Sedangkan nyokap maunya gue pergi pagi karena dia gak mau gue pergi malam.

Akhirnya bokap gue yang ngalah karena gue memastikan ke beliau bahwa gue akan tidur di perjalanan dan akan tidur sebentar ketika sampai di Wisma Kinasih.

---

Pamit tidur ke orang tua, dan adik-adiknya nyokap, gue pun langsung ke kamar untuk packing.

Emang yah, kalo orang lagi kedukaan tuh gak boleh sendirian.

Sambil ngumpulin barang-barang apa aja yang mau dibawa, ini mata basaaah aja terus.

Sampe sakit kepala karena susah tidur.

Akhirnya gue memutuskan untuk berhenti packing dan maksain diri buat tidur dengan mata yang gak kering-kering.

Ow! Sebelumnya, gue gak paham lagi sih sama berkat yang ada di hari itu.

Bayangin deh, di tengah-tengah kehektikan kedukaan ini, ada aja tetangga yang super baik hati masakin makanan secara gratis buat kami.

Dengan porsi yang buanyak banget, sampai cukup untuk disajikan buat para tamu yang datang.

Serius.

Mulai dari nasi putih, sayur sop, telur balado, tempe-tahu, minuman, kue, WAW!

Feel so undeserved karena gue ngerasa gue tidak bersosialisasi dengan baik di lingkungan ini.

Pas gue inget-inget...eh iya yah, nyokap gue kan ikut 2 grup arisan ibu-ibu komplek dan beliau terbilang jadi anggota yang paling aktif juga kalo ada arisan emak-emak komplek.

Jadi satu hal yang gue tarik sebagai teladan dan aplikasi adalah: kalo nanti gue udah berumah tangga, dimanapun itu gue harus ikut komunitas baik yang ada; mau itu bentuknya arisan, persekutuan, apalah yang penting baik.

Puji Tuhan memang arisan yang nyokap gue ikutin ini baik-baik aja.

Gak yang aneh-aneh gitu.

Dan akhirnya ternyata berimbas ke situasi-situasi seperti ini.

Sungguh banyak hal yang sangat gue syukuri di hari itu meski hati dirundung duka.

Terpujilah TUHAN!

-----

Jumat, 21 Juni 2019

...to be continued in part 2 😊

Comments

Popular posts from this blog

Lagu yang Tak Hanya Menyentuh Hati, Tapi Sampai Menyentuh Jiwa

Pengalaman Gokil Sebagai Mentor (PGSM)

7 Hal yang Gue Lakukan Ketika Depresi

Ketika Rumput Tetangga Lebih Hijau. Alami atau Sintetis?

Hanya Bisa Tersenyum Miris

Mendingan Jujur Tapi Nyakitin, Atau Bohong Tapi Lama-Lama Tetep Nyakitin Diri Sendiri? (sungguh sebuah judul yang amat panjang)

Menyesal: Gak Bisa Dihindari, tapi Bisa Dihadapi

Menemukan Makna Seru dari Pemuridan

SARAPAN PAGI: Berserah yang Tidak Menyerah

Udah Lama Enggak Nulis Blog