My deepest desire of something that I'll never get in life




We can replace the "something" with "someone", on the post title, because that's the truth.

There's a deepest desire that I acknowledged this morning, and...I'm also aware that the desire won't be accomplished for the entire of my life.

I was longing for an older brother; in the context of having a sibling.

-----

Jadi tadi pagi gue lagi scroll Reels IG terus nemu konten ini. Tiba-tiba pikiran gue kayak tersentak gitu, terus gue nangis. Ke-trigger banget. Awalnya gue pikir gue nangis karena terharu aja ngeliat keunyuan si anak kecil laki-laki yang lagi gendong adik perempuannya. Tapi setelah gue renungkan lebih lanjut...gue sadar gue punya satu hasrat atau keinginan besar sedari kecil yang gak pernah gue "selesaikan" sama diri sendiri: gue pengen punya kakak laki-laki/abang.

Menyadari hal ini gue langsung nangis, gak bohong. Di samping gue memang punya perasaan yang sangat sensitif, gue nangis karena ternyata gue masih menyimpan desire yang gue tahu gak akan bisa terwujud tapi gue masih ngarep (nangkep gak?). Sehingga itu ternyata menjadi kesedihan tersendiri yang gak pernah gue urusin.

Sadar bahwa gue gak bisa menyimpan ini sendirian, gue langsung bikin voice note dan cerita ke salah satu kakak dan teman-teman di circle terdekat untuk numpahin semuanya. Biasanya ketika cerita, gue akan makin aware dan paham sama apa yang ada di dalam hati. Selama ini yang gue lakukan cuma mengabaikan si perasaan itu karena gue pikir itu gak penting. Itu gak berfaedah buat hidup gue (maksudnya yang soal keinginan untuk punya abang itu ya). Menurut gue itu aneh kalo diceritain ke orang lain. Dan jadi mikir juga...gue aja gak ngerti sama desire ini, apalagi orang lain...

Jadilah hari ini untuk pertama kalinya gue cerita bahwa gue punya keinginan itu.
Gue cerita ke mereka.
Gue cerita di blog ini.

---

Menyambungkan titik-titik dalam kehidupan, gue pun jadi sadar sama perilaku gue selama ini ketika berinteraksi dengan teman-teman perempuan dan laki-laki yang lebih tua dari gue.

Pertama, gak heran kenapa sejak SMP dan SMA gue lebih banyak temenan sama kakak kelas. Bukan sombong, bukan, tapi sepertinya tubuh gue meresponi dengan baik tatkala punya temen dari kakak kelas. Ditambah lagi ketika SMA, di mana waktu itu memang si pacar adalah kakak kelas (dream comes true banget gak sih waktu itu punya pacar kakak kelas, ketua rokris, ketua klub futsal sekolah...konteks sombongnya ya jadi ikut populer juga lah gue waktu itu, LOL! :"D).

Tapi poinnya bukan soal ketularan populernya. Gue mah lumayan cupu waktu SMA. Lebih ke nerd karena suka baca buku tapi gak yang ambis akademik banget.  Lebih tepatnya: gue nyaman berelasi dengan kondisi seperti itu. Gue nyaman berada bersama si pacar karena ngerasa dia kayak abang sendiri.

Kedua, nah cukup nyambung sama konteks sebelumnya, kan abis putus gue jomblo nih. Gak dipungkiri sejak saat itu gue terus-menerus membuka mata lebar-lebar melihat siapa bangabang potensial berikutnya, wkwkwk ๐Ÿ™ˆ Tapi seiring berjalannya waktu, relasi demi relasi, pertemanan demi pertemanan, gue ngerasa ada sesuatu yang...sepertinya janggal di diri guenya. Dari sekian banyak cowok atau bangabang yang gue lirik, mungkin iya beberapa diantaranya menarik perhatian, seru diajak ngobrol, seru diajak bercanda, tapi gue masih belum acknowledging that...ada lho deepest desire yang gue pendam selama ini. Bahkan tendensinya lebih ke menyangkal. Padahal desire itulah yang bikin gue punya jawaban otomatis ketika ditanya seputar tipe cowok yang gue suka:
"Ya pokoknya abang-abang aja."

But unfortunately...reality stroke me to the core that...usia lebih tua belum tentu lebih dewasa.

Ada pengalaman pribadi yang membuktikan bahwa maturity doesn't come from an age, but from characters. Jujur ini nyelekit banget sih ketika dialami. Big picture dalam benak gue terkait sosok abang luntur sudah tatkala menyadari kedewasaan karakter itu lebih penting daripada seleksi berdasarkan usia (dalam konteks nyari pasangan ya maksudnya).
Mixed feeling lah gue jadinya.
Trust issue lah gue jadinya.
Gue jadi cukup hopeless juga untuk "memburu abang-abang" karena: 1. Mulai percaya fakta bahwa kedewasaan karakter tidak bergantung pada usia; 2. Gue masih mau menilik hati sendiri tentang keinginan gue untuk punya abang yang gue tau realitanya gak akan pernah terwujud.

Jadi, desire gue untuk memiliki kakak laki-laki termanifestasi dengan keinginan untuk punya pacar yang usianya lebih tua. Gue gak tahu ya ini wajar apa enggak dijadikan sebab-akibat, tapi yah...ternyata itu yang gue pikirkan selama ini sih.

Makanya sekarang ketika gue sadar akan keinginan terdalam ini, gue berupaya untuk bawa itu ke permukaan biar gak dipendam dan bikin gue jadi misleading ketika mengalami relasi, khususnya dengan mereka-mereka yang usianya lebih tua dari gue. Membawa hal ini ke permukaan supaya gue bisa tetap aware sama isi hati dan pikiran sendiri.



---

Life must go on. 

Realita bahwa gue memegang peranan sebagai anak sulung tentu sudah jadi identitas hidup yang gak bisa lagi diubah; sebesar apapun hasrat untuk punya abang yang gue rasakan sampai sekarang.

Jujur gue gak tahu ke depannya bakal gimana, apalagi terkait meresponi setiap relasi-relasi yang gue miliki saat ini. I'm just hoping that Meista keep aware to herself and give every desire to God. Because God knows it all.

Udah sangat mustahil untuk "ngeluarin" abang dari rahim emak gue, lol. Tapi gak mustahil untuk bawa ini ke Tuhan dan mengakuinya di atas permukaan; tetap aware serta gak menyangkal bahwa: gue pengen punya abang.

Comments

  1. ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐Ÿ’—๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ
    admitting our deepest desire reflects courage. Meis' truly courageous!

    ReplyDelete

Post a Comment

Thank you for your comment! :D

Popular posts from this blog

Belajar dari Film "Monsters University": Dari Saingan Jadi Rekan

Si "Piano Princess"

๋‹ค ๊ดœ์ฐฎ์•„, ๋‚˜์•ผ

Clickbait??? Tulisan Ini Dijamin Akan Membuka Pandanganmu!

Dealing with My Anger