Thank you, Overwhelmed...

Thank you, overwhelmed...

Karena lo hadir, gue jadi ngeh bahwa gue perlu masukkin agenda "istirahat" ke todo list harian yang segabrek-gabrek.

Untung lo dateng sebelum si burn out dateng. Kalo si burn out mampir...dahlah. Gue kagak tau bakalan begimane jadinya. Lu dateng aja bikin gue capek, apalagi si burn out.

Sinyal yang lo berikan menyadarkan gue bahwa ada hal yang memang perlu dibuat sesuai idealisme, perlu dibuat perfeksionis, ada juga yang cuma butuh 'yaudalah yang penting selesai' atau apa adanya aja.

Dan ternyata itu membantu untuk meringankan beban pikiran + jadi bikin gue menikmati hal-hal yang jadi tanggung jawab gue untuk dikerjakan.

Thank you, overwhelmed. Cuman jangan sering-sering lah datengnya. Capek woy.

๐Ÿ˜…

(...kemudian jawab si overwhelmed:

Yhaaa monmaap neng yang kebanyakan agenda dan kegiatan kan situ. Coba tulung masupin agenda "istirahat" coba biar ane gak mampir melipir.)

---

Oke, another random thing in my brain bikin percakapan dengan subyek tak kasat mata bernama: overwhelmed ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚

Kepikiran gini setelah gue merenungi jawaban yang gue berikan ke salah satu kakak yang menawari gue pelayanan dalam waktu dekat. Awalnya biasa lah ya, kebayang guilty dan segala rugi-rugian kalo gue gak ambil pelayanan ini. Tapi kali ini sepertinya gue mengambil keputusan yang tepat untuk 'ngga dulu' karena gue lagi ada di fase yang 'kering'.

Lagi capek memimpin, lagi capek berinisiatif, lagi capek making something...fasenya sekarang gue lagi pengen dituntun, diarahin, dan dipimpin. Ini gue gatau ada korelasinya apa engga dengan konteks menolak pelayanan, wkwkwk, tapi intinya I need some time to take a rest for a while.

๐Ÿƒ

Comments

Popular posts from this blog

Belajar dari Film "Monsters University": Dari Saingan Jadi Rekan

Si "Piano Princess"

๋‹ค ๊ดœ์ฐฎ์•„, ๋‚˜์•ผ

Clickbait??? Tulisan Ini Dijamin Akan Membuka Pandanganmu!

My deepest desire of something that I'll never get in life

Dealing with My Anger