Menghadapi Kesulitan dan Rintangan Demi Bertumbuh--Life is Never Flat




Mengelola waktu.

Mengelola keuangan.

Mengelola emosi.

Mengelola diri sendiri.

Mengelola hidup.

Semuanya hampir mampu dilakukan sampai tiba pada fase gue harus: mengelola manusia.

Gue heran sih kenapa banyak orang yang gila posisi dan jabatan tertentu, while gue pribadi pas ada di posisi yang tanggung jawabnya harus mengelola manusia tuh gila banget tantangannya (kalo boleh milih gue sih pengennya forever dipimpin ya, wk!).

Man, gue harus beres sama diri gue sendiri lho baru bisa punya kemauan untuk belajar bagaimana mengelola manusia lainnya (dalam konteks dibebani tanggung jawab sebagai leader ya). Soalnya kalo gue gak "beres" sama diri gue sendiri, alih-alih fokus nge-lead yang ada gue insecure mulu. Tbh sampe sekarang aja gue masi sering insecure dan overthinking loh sama diri sendiri. Masalahnya, kalo gue kayak gini terus, gimana nasib orang-orang yang gue pimpin? Prinsip gue: kalo leader-nya insecure, gimana orang-orang yang dipimpinnya?

...dia yang punya prinsip, dia yang insecure, dia sendiri yang ngelanggar prinsipnya sendiri. Itulah Meista.

-----

Duduk mojokan di sebuah kedai kopi yang tenang sambil ngelarin deadline review tulisan anak-anak magang membuat gue merenung akan hal ini. Bermodalkan prinsip hidup "yaudah jalanin dulu aja" bikin gue geleng-geleng kepala melihat bagaimana Pemilik Semesta berkarya begitu rupa dalam hidup gue sehingga hidup gue begitu warna-warni. Sejujurnya, gue takut menjalani ini semua. Gue gak ngerti kenapa gue takut tapi gue ngerasa ini emosi takut. Takut gak sesuai ekspektasi sih kayaknya. Ekspektasi yang gue pasang sendiri yang, somehow, terlalu tinggi, idealis, dan perfeksionis. Padahal, kalo udah tahu semua ini diberi dan dipimpin oleh Sang Pemilik, ngapa gue kudu insecure yak...
Jadi mikir sendiri gitu, kayak: "Ini yang jadi Tuhan atas hidup gue tuh Dia atau gue?"

Jangan-jangan gue malah lagi cosplay jadi Tuhan...ngerasa bisa mengontrol semuanya sendiri, ngerasa semuanya bisa gue kendalikan-literally semua termasuk hal-hal yang di luar diri gue.

Iyes, gue takut. Takut mendapatkan apa yang terbaik juga bahkan. Dikala banyak ekspektasi-ekspektasi di masa lalu yang sempat hancur, gue sempat pesimis juga ketika hal baik lagi Tuhan kasih dan sediakan. Salah satunya lewat kesempatan memikul tanggung jawab mengelola manusia.
Kadang gue bertanya-tanya juga loh, macem: "Kenapa sih gue harus punya hati buat mereka? Kenapa sih gue harus sayang sama mereka? Mereka siapa emang? Keluarga bukan, kenal juga cuma bentaran doang--itu juga dalam ranah profesional."
Ya gue bukan sayang yang gimana-gimana juga yak. Batasan gue hanya sebatas mengasihi rekan profesional doang, titik. Gue ngerasa mereka punya suatu kelebihan dan kekuatan yang bisa diberikan untuk berkontribusi buat kepentingan sesama; bukan cuma buat diri sendiri. Gue kayak punya "ambisi" untuk memperlihatkan pada mereka role model untuk jadi pemimpin yang baik-tapi-rapuh-dan-apa-adanya tuh ya begini. Ya jadi diri sendiri aja. Ya gak harus kok lo disukai sama anak-anak buah lo, tapi seenggaknya lo udah memberikan yang terbaik versi diri lo sendiri.

-----

Menuliskan keruwetan pikiran yang insecure gini bikin gue ngeh bahwa: sebenarnya tantangan tersulit yang gue harus hadapi adalah ya diri gue sendiri. Sebenarnya Semesta mungkin memberikan gue kesulitan dan rintangan gak akan melebihi kapasitas gue kok. Gue pasti bisa melaluinya. Cuman yang menghalangi kan tetep diri sendiri. Insecure-nya, overthinking-nya, negative thinking-nya; tanpa sadar, atau jarang sadar, bahwa setiap kesulitan dan rintangan itu ternyata jadi jalur untuk gue bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik (mudah-mudahan terbaik versi Owner ya, bestiee~).

Abis ngepost ini, gue akan kembali melanjutkan kerjaan gue nge-review tulisan anak-anak magang. Recalling many things back then, akhirnya gue menilai bahwa ya memang: my life is never flat. And it will always be like that ๐ŸŒˆ

๐ŸŒธ

Comments

Popular posts from this blog

๋‹ค ๊ดœ์ฐฎ์•„, ๋‚˜์•ผ

7 Hal yang Gue Lakukan Ketika Depresi

๊ทธ๋Œ€๋ผ๋Š” ์‹œ

How I Deal with My Own 'Self-Blame' Feeling

"I Will Bring Honour To Us All" - Sebuah Tuntutan

Ketika Rumput Tetangga Lebih Hijau. Alami atau Sintetis?

Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain: Nyenengin atau Nyakitin?

Lagi, Curcolan Random Habis Baca E-mail Siang Ini

Belajar dari Film "Monsters University": Dari Saingan Jadi Rekan