Posts

Showing posts from 2022

Tinggal di Tempat Baru—Sebuah Proses Discerning yang Bikin Dagdigdug

Image
Sebelum nulis ini, gue nangis di kosan. Namun kali ini bukan nangis gegara patah hati. Bukan nangis gegara cowok yang gue suka menolak perasaan gue. Bukan gegara hal-hal yang menyakitkan dan mendukakan hati. ...tapi karena serentetan doa yang terjawab. ...karena gue secara personal merasakan sendiri Tuhan itu ada dan nyata meski tak terlihat. ..karena gue sekarang mulai paham bahwa Tuhan hadir di tengah-tengah kehidupan gue, baik dalam hal yang biasa gue anggep sepele-receh- taken for granted , maupun hal-hal besar yang menurut gue gak make sense. ...karena serentetan doa yang Dia jawab. ----- Singkat cerita gue baru balik dari rumah papa di Ciledug dan baru sampe kosan. Abis beres-beresin londrian, unpack  ransel, seperti biasa gue suka randomly auto-kontemplasi sendiri pas lagi ngeliat kamar kosan. I do remember bagaimana segelintir proses gue bergumul untuk tinggal sendiri itu lumayan melelahkan hati, emosi, dan pikiran. Mulai dari perasaan insecure , gak tahu mulai dari mana, gak y
Apa gue yang terlalu idealis ya? Apa gue yang terlalu perfeksionis ya? Apa gue yang terlalu banyak ngeluh ya? Apa gue yang terlalu sering protes ya? Apa gue harusnya lakuin bagian gue aja dan gak usah peduli sama apa yang terjadi ya? Apa gue harusnya gak peka sama "red flags" dalam kehidupan ini ya? ----- Also me: Ya gak semuanya harus disalahin ke diri lo juga, beb. Dalam dunia ini...ada orang-orang yang memang perlu bertumbuh dalam bagiannya masing-masing juga. It doesn't mean "elo gak bisa kerja". Bisa kok, bisa. Minta hikmat sama Tuhan, deh. He knows what to do. He knows what you should do. Ngopi dulu.
"Even good things can be driven by fear." - Raisa Ayuditha Marsaulina - (Sabtu, 17 September 2022)
Berkata pada diri sendiri: "Mei, give them a chance to grow as well. Di dunia ini bukan cuma lo yang layak untuk bertumbuh. Orang-orang yang ngeselin, nyebelin, gak idealis di mata lo, yang gak memenuhi ekspektasi lo (baik mereka yang lebih tua-seumur-lebih muda), juga memiliki hak kelayakan yang sama untuk bertumbuh. Dan berubah... Mungkin mereka gak akan berubah menjadi seperti yang lo harapkan, tapi mereka layak untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari diri mereka sebelumnya. Got it?"
...because present is a present 🎁.

Si "Piano Princess"

Image
Pagi ini di kantor...ada temen yang pasang lagu Vierra. Jujur sampe sekarang gue memang masih suka banget sama lagu-lagunya Vierra. Enak banget komposisi musiknya Mas Kevin Aprilio! 😍 Terus gue jadi  throwback... ke masa-masa ketika gue lagi tergila-gila sama lagunya Vierra, di saat yang sama juga gue tengah suka dengan seseorang. Dia kakak kelas (kakak kelas lageeee, yekan 🀣🀣🀣). Dia pemain drum. Beberapa kali pernah nge-band bareng dan...yah memang momen-momen main musik tuh suka jadi celah bagi gue pada akhirnya menyukai seseorang. Turns out... gue jadi merenung: Selama ini cowok-cowok yang gue lirik itu pasti yang bisa main musik. Beberapa diantaranya jago bahkan dewa banget sampe bikin hati klepek-klepek. Yang jago main piano pernah gue lirik--yaiyalah, ini sih udah pasti bawaan karena pasti liat role model ayah sendiri yang juga jago main pianonya, guru pulak! Terus yang jago main gitar juga pernah gue taksir. Kemudian yang di masa-masa suka Vierra ini gue naksir sama senior y
Thank you, self, for validating our own emotion πŸ€— Lega kan lega kan lega kaaaaaaaaaaaaaaaaaan! πŸ˜† Pertama, udah berani ngomongin ini ke orang lain, which is sebelumnya pasti ngerasa malu, bego, aneh banget ngapain sik pake dicerita-ceritain segala..rangorang juga pasti gak bakal relate. Tapi ternyata menceritakannya menjadi langkah terbaik ketimbang dipendem sendiri, terlepas dari apapun respon dari orang-orang yang gue ceritain (even I don't have problem with their responds at all! They're so kind 😭 I don't expect anything but I'm sure I choose the right people). Kedua, kelegaan hari ini kiranya menolong gue untuk makin mengurang-ngurangi buruk sangka atau negative thinking sama orang lain. Ketiga, penasaran gimana respon mama papa kalo gue ceritain hal ini πŸ˜‚. Gue yakin mereka gak bakal marah sih. Paling cuma aneh dan heran aja kok gue bisa punya keinginan kayak gitu πŸ˜… Dari kecil pula. Dan baru diungkapnya pas gede, wkwkwk. Yah... it's relief... ketika bisa mem

My deepest desire of something that I'll never get in life

Image
We can replace the "something" with "someone", on the post title, because that's the truth. There's a deepest desire that I acknowledged this morning, and...I'm also aware that the desire won't be accomplished for the entire of my life. I was longing for an older brother; in the context of having a sibling. ----- Jadi tadi pagi gue lagi scroll Reels IG terus nemu konten ini . Tiba-tiba pikiran gue kayak tersentak gitu, terus gue nangis. Ke- trigger  banget. Awalnya gue pikir gue nangis karena terharu aja ngeliat keunyuan si anak kecil laki-laki yang lagi gendong adik perempuannya. Tapi setelah gue renungkan lebih lanjut...gue sadar gue punya satu hasrat atau keinginan besar sedari kecil yang gak pernah gue "selesaikan" sama diri sendiri: gue pengen punya kakak laki-laki/abang. Menyadari hal ini gue langsung nangis, gak bohong. Di samping gue memang punya perasaan yang sangat sensitif, gue nangis karena ternyata gue masih menyimpan desire  y
AGAIN! Hari ini memulai meeting bareng atasan dengan overthinking. Selalu badmood memulai hari (tiap ada meeting bareng beliau) lantaran berpikir: "Aduh, gak mateng banget sih persiapan meeting gue..." Di bayangan tuh udah kayak meeting2 perusahaan di pelem-pelem pada umumnya. Si Meista lupa dia lagi kerja di start-up yang fasenya bener-bener masih development. Jadi yang dibutuhkan tuh ide, ide, ide, kreativitas, dan strategi. Bukan presentasi PPT yang wawaw ulala. Akhirnya cuma bikin poin-poin diskusi yang on-point, and...ya gitu. Going smooth aja diskusinya. Guenya aja yang terlalu ambis. Terus capek sendiri, LOL. Sungguh overthinking yang amat sangat tidak penting karena itu menguras energi internal gue banget, huh! Tuhan Yesus baik banget lah udeh. Kayak...yang ribet tuh pikiran Meistanya, bukan realitanya. Seringkali...ternyata apa yang dibayangkan pikiran kita jauh lebih mengerikan daripada realitanya. Belom juga menghadapi realita yang gimana-gimana, di kepala bayangan
Coba nih ya, biasanya gua kalo memutuskan ikut kamp itu kudu di- trigger  sesuatu atau seseorang; antara karena guenya dilibatkan pelayanan, atau karena ada bestie gue di sana. Sekarang mau ngetes dan menguji hati untuk ikut sebuah kegiatan yang dimotivasi karena kebutuhan. Yah, kelihatannya momennya sangat tepat untuk gue ikut acara ini di masa-masa "istirahat pelayanan"--konteks pelayanan yang literally melayani di ladang rohani. Masih fase ambil jeda dan istirahat, kayaknya pas kalau gue ikut acara ini. Pas banget juga untuk menguji hati dan motivasi. Karena...ya jujur aja lately gue lagi nyadar bahwa ternyata gue sering jatuh ke motivasi yang gak baik-baik amat kalo lagi terima pelayanan. Despite of I realize that I have my own-given-capacities,  sering juga motivasinya karena 'merasa dibutuhkan'. Nah, sekarang fasenya kebalik, gue yang lagi membutuhkan orang lain. Gue yang lagi butuh pertolongan. Dan di fase "istirahat pelayanan" ini kiranya gue bisa be
Thank, GOD, yang kali ini let go-nya gak perlu sampe confess. Phew. 😌
The biggest liar I've ever heard (and ever believed when the hard time strikes...) ...is that God cannot be trusted .
I'm always think big. Dream big. Expecting things. But now I realize that maybe sometimes we just need to take a small step and get things done. Perhaps...there are times that we don't need to think big or too expecting things. Look around. There must be something good even in something that we consider "small" or even "unseen" or "taken for granted-things". (This writing came up every time I said: "God, I'm tired.")
Bingung... Kalo udah sayang sama orang, ketika ditanya: "Sibuk gak", "Kapan gak sibuk", "Maaf jadi ganggu kesibukannya", berasanya kayak gak punya kesibukan. Lebay ye, wk. Bohong banget gak sibuk. Tapi kalo kesayangan yang nanya/ngomong gitu, ya pengennya ngasih waktu aja langsung, terlepas sibuk atau engga. Semoga ini gak memicu "Savior Syndrome" yha, karena Satu-satunya yang omnipotent kan cuma Tuhan. Namun bersyukur, hati yang bisa sayang gini pasti anugerah dari-Nya. So gemay & beautiful ❤️πŸƒ

Resign

Image
It feels weird... Ketika lo tengah menempuh perjalanan dan petualangan yang...lo yakin lo tengah menapaki langkah yang tepat, tapi karena anginnya kencang banget, jadi seringkali ngerasa bersalah dan ragu. Lo yakin lo tengah berjalan ke arah yang tepat, tapi lo gak tahu jalan di ujung sana bakalan baik atau enggak buat lo. Orang banyak bilang ini istilahnya: beriman. Sebuah langkah yang gak lo ambil hanya dalam sekejap mata, sehari, dua hari, seminggu, sebulan, setahun...tapi bahkan bertahun-tahun. Hingga akhirnya keberanian untuk mengambil keputusan pun tiba. So, yah...this is it. Collecting every courage I have to keep walking, keep going, and keep hoping that I...no, that we ...are not alone in this journey. Maybe this story is one of a small dot that will create a Bigger Story. Idk. All I know is just keep going and put my faith on The Invisible Father, Who always taking care of us until now. πŸƒ P.S.: sebelum klean-klean mengira gue job-hoping lagi untuk yang kesekiaaaan kalinya (

The Story Behind "Cuan"-Life Management

Image
Pulang sekolah bareng papa diajak mampir sebentar ke ATM. Tiba-tiba ketika kelihatannya beliau mau tarik tunai, yang gue lihat dia cuma bengong. Terdiam, terpaku depan mesin ATM. Frozen ("let it gooo~"  hee...bukan yaa, saudara πŸ₯²).  Saat itu gue gak ngerti apa-apa. Bahkan memori yang tersisa ya cuma peristiwa di depan mesin ATM itu. Pas pulang ke rumah gue tetep gak ngerti apa-apa. ----- Itu memori yang masih diingat sampe sekarang, ketika itu gue masih duduk di bangku SMA. Sekian tahun berikutnya, akhirnya gue ngerti apa yang terjadi. Tahun 2021 merupakan masa awal gue menyadari bahwa "gue hidup". Lha emang selama ini mati? Bukan, bukan, wkwk πŸ˜…. Gue akhirnya menyadari bahwa gue punya kehidupan yang harus gue urusin dan pertanggungjawabkan. Means, (harusnya) no longer under my parents' control, harus mulai belajar mandiri, belajar mempertimbangkan dan membuat keputusan. Ya intinya bertanggung jawab lah sama hidup. Pemikiran ini datang ketika gue lagi tantrum-t

Thank you, Overwhelmed...

Thank you, overwhelmed... Karena lo hadir, gue jadi ngeh bahwa gue perlu masukkin agenda "istirahat" ke todo list harian yang segabrek-gabrek. Untung lo dateng sebelum si burn out  dateng. Kalo si burn out mampir...dahlah. Gue kagak tau bakalan begimane jadinya. Lu dateng aja bikin gue capek, apalagi si burn out . Sinyal yang lo berikan menyadarkan gue bahwa ada hal yang memang perlu dibuat sesuai idealisme, perlu dibuat perfeksionis, ada juga yang cuma butuh 'yaudalah yang penting selesai' atau apa adanya aja. Dan ternyata itu membantu untuk meringankan beban pikiran + jadi bikin gue menikmati hal-hal yang jadi tanggung jawab gue untuk dikerjakan. Thank you, overwhelmed. Cuman jangan sering-sering lah datengnya. Capek woy. πŸ˜… (...kemudian jawab si overwhelmed: Yhaaa monmaap neng yang kebanyakan agenda dan kegiatan kan situ. Coba tulung masupin agenda "istirahat" coba biar ane gak mampir melipir.) --- Oke, another random thing in my brain bikin percakapan de
 There's no crush anymore.

Takut Ditinggal dan Takut Kehilangan

Image
Takut kehilangan relasi. Takut kehilangan kasih sayang dari orang-orang terdekat. Takut kehilangan kepercayaan dari orang-orang di tempat kerja. Takut kehilangan pekerjaan. Takut kehilangan diri sendiri. Takut kehilangan komunikasi dengan orang-orang yang dikasihi. Takut kehilangan momen bersama orang-orang yang dikasihi. Takut ditinggalkan. Takut dijauhkan. Semuanya dimulai dengan kata: "takut" . ----- Rabu, 10 Agustus 2022 Hari ini lagi minta izin WFC (Work From Cafe) karena mau ketemu temen dekat yang dalam pekan ini akan berangkat ke negeri Paman Sam untuk studi lanjut. Dia adalah salah satu orang yang "gue pilih" untuk menunjukkan sisi ter-rapuh dan terlemah gue, and thank God  kita berdua sama-sama memilih untuk tumbuh bersama sebagai saudara dalam Kristus (terima kasih pemuridan kampus yang mempertemukan kami! Bertemu dengan Christiani Sagala dan Kak Masniar Elysabahtini menjadi salah satu warna terindah dalam hidup gue karena lewat kelompok kecil ini gue dii

The Useless Thing

Image
Selasa, 9 Agustus 2022 Semua masih terasa cukup "jetlag"  ketika mengalami atau melihat banyak hal terjadi dalam waktu bersamaan. Belum genap sepekan adaptasi di tempat hidup yang baru. Baru aja membuka diri untuk rekonsiliasi dengan beberapa teman dekat. Menyesuaikan ritme hidup untuk masing-masing aspek (pekerjaan, aktivitas pelayanan, berelasi sama keluarga, berproses dalam sebuah pergumulan, dan lain-lain). Semuanya kadang bikin sakit kepala karena pertanyaan yang sering muncul adalah: "Ini yang mana dulu dah yang harus gue kerjain? Mana yang harus diprioritaskan?" ...karena semuanya terlihat penting dan harus dinomorsatukan. Respon apa yang muncul pertama kali? Khawatir. --- Hari Selasa kemarin seperti biasa tiap bangun pagi di kepala gue sudah satsetsatset memikirkan rancangan life flow apa-apa aja yang perlu gue kerjakan dan urus di hari itu. Salah satu agendanya adalah meeting rutin dwi-mingguan dengan pimpinan gue jam 10 pagi . Sejak malam sebelumnya, si Me
Kataku hari ini pada diri sendiri: "Meista, gapapa loh untuk bikin kesalahan (dalam konteks ketidaksengajaan). We all do. Don't push yourself too hard to please everyone, because...they won't be. They won't be pleased by any kind of your "perfection". Just do your part well, dan tetap jadi diri sendiri. You can do it today! " πŸ’œ

A Weekend True Story

Image
Minggu, 7 Agustus 2022 21:48 Menikmati punggung yang panas abis dikerok mama lantaran gaenak bodi gegara sakit kepala akibat nangis semaleman dan tidur gak nyenyak. Kenapa sih lo? Ada apa sebenarnya? ----- Masing-masing orang punya caranya sendiri dalam berekspektasi. Masing-masing orang, juga punya caranya sendiri dalam meresponi ekspektasi yang tidak terealisasi. Hal-hal yang "dipasangkan" ekspektasi pun bisa beragam, tergantung dari apa value yang dianut oleh masing-masing orang. As for me, relationship and friendship become my top/highest value in my life. Ketika diberi kesempatan untuk berelasi dengan orang lain, mungkin ini dalam konteks pertemanan, gue akan masukkan itu ke dalam skala prioritas kehidupan gue. Apalagi, jika gue menilai bahwa relasi tersebut layak gue perjuangkan (emang ada relasi yang gak layak diperjuangkan? Ya ada. Relasi yang taken for granted gitu; yang datang dan pergi gitu aja). I thought...the relationship that I will tell in this story ada dalam