Satu Lagi yang Baru Ketika Kenal Diri Sendiri

Yang nulis blog ini :p


Hari ini sebenarnya agenda utama gue adalah:
  • Bersih-bersih kamar dan segala isinya
  • Beresin barang-barang perintilan yang gue bawa pulang dari kantor (iya, iya, resign-nya dari akhir April, tapi beberesnya baru sekarang. Mager 😢)
Bersih-bersih kamar: checked! ✅

Dilanjutkan dengan beresin barang-barang perintilan yang gue bawa dari kantor dan yang memang udah ada di rumah, sekaligus pengen ngerapihin tata letaknya aja sih. Secara yaaa perempuan perabotannya banyak mulai dari ujung rambut sampe ujung kaki. Dari yang paling primer (pakaian), sampe yang paling tersier (koleksi aksesoris rambut, kutek, dan softlens). Enggak, sumpah mata gue sehat, gaes. Ganjen aja kalo lagi jalan keluar rumah pengen gegayaan pake softlens untuk mata normal. Apalagi di era bermasker kayak sekarang ini kan yang keliatan area mata doang, lol πŸ˜·πŸ‘€

Terus udah semangat nih di awal berantakin barang-barang di kamar biar bisa gue sortir, tiba-tiba jadi males. Tiba-tiba jadi malah kepikiran:

  • Lha barang-barang gue banyak amat ternyata yak
  • Ini mau pada ditaro di mana...kalo entar banjir lagi gimana ya
  • Hidup gue banyak ugha perintilannya
  • Eh...emang hidup gue mau dibawa kemana?
  • Eh...lha lo mau berbuat apa selanjutnya di hidup ini?
Terus jadi bingung mau beresin yang bagian mana dulu karena gue jadi lebih banyak ngelamun dan mikir. Ealah.

Kemudian gue inget: mungkin ini kali ya yang dinamakan 'ambivalen'. Kalo kata KBBI, ambivalen tuh pengertiannya: "Bercabang dua yang saling bertentangan (seperti mencintai dan membenci sekaligus terhadap orang yang sama)." Terus kalo nyontek istilah dari artikel klikdokter.com, ambivalen atau ambivalensi merupakan "salah satu bentuk gangguan dalam psikiatri di mana secara bersamaan terdapat dua impuls yang berlawanan terhadap hal yang sama pada orang yang sama dan waktu yang sama."

Gak deng, itu cuma cocoklogi ala gue doang antara beberes barang dengan kepribadian ambivalen, wkwkwk. Kalo urusan mberesin barang terus berujung ngelamun sih itu namanya kedistrak πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Tapi serius, gaes. Dalam masa-masa melamun tadi, gue kepikiran sama si konsep ambivalen itu. Jadi kemaren (Rabu, 5 Mei 2021) gue konsultasi ke psikiater untuk mengetahui kondisi kesehatan mental gue setelah mengalami turbulens sejak Februari-April gara-gara banyak hal (yak terima kasih banyak untuk abang random yang ada di ujung sanaaa namun namanya tidak boleh mau disebut, seperti Voldemort--Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh Mau-Disebut, atas bantuannya saya akhirnya bisa beneran konsultasi kesehatan mental ke psikiater setelah ketunda-tunda sejak tahun 2020. Mohon ditunggu balas budi saya, tidak boleh ditolak, terima kasih 🌼). Gue mengikuti tes MMPI--yang gue baru tau ternyata kayak lagi ngerjain psikotes gitu. Bedanya gak ada angka & deret, kubus yang perlu dibolak-balik, atau soal-soal matematika dasar.

Salah satu hasil tes yang didiagnosa terhadap gue adalah si ambivalen ini. Jujur gue baru tau juga sih konsep ini. Gue se-engga sadar itu bahwa gue punya 'kelainan'. Gue pikir ya gue emang gini tipenya dalam hal suka-engga suka. Namun ternyata karena ada si ambivalen ini, gue jadi 'labil', khususnya dalam pengambilan keputusan.

Terus hasil lainnya lagi (ini yang gue inget aja yes) adalah tentang Ego Strength (Es). Skor gue di Es ini rendah banget. Ini artinya (kata ibu dokternya) gue memiliki daya kemampuan pengambilan keputusan yang lemah.

Abis itu yang lainnya tentang Prejudice (Prasangka). Ini skornya gede banget! Prejudice sendiri punya pengertian membuat keputusan sebelum mengetahui fakta yang relevan mengenai obyek tersebut, kata mamang Wikipedia. Kalo kata bu dokternya kemaren gini (kurang lebih, tidak sama persis):

"Kamu itu kuat sekali prejudice-nya. 'Kalo gue menilainya begini ya, begini. Pokoknya begini. Mau gimana'. Hati-hati, dan cobalah untuk belajar beradaptasi dengan lingkungan."

Dan masih ada beberapa hal lainnya yang gue gak terlalu ingat karena istilahnya udah makin sulit gue tangkap. Yang keinget utamanya cuma 3 hal ini aja: tentang ambivalen, ego strength, dan prejudice (prasangka).

PR yang gue bawa pulang untuk dilatih dan dikerjakan adalah:
  1. Belajar beradaptasi lebih lagi dengan lingkungan supaya prejudice-nya berkurang
  2. Belajar untuk berpikir logis--wha ini sih nih yang susah. Secara selama ini gue selalu mengandalkan intuisi gue doang. Intuition is like my friend gituuw~
  3. Belajar untuk tetap berpikir positif
---

Gara-gara konsultasi ke psikiater dan nemuin hal baru lagi tentang diri gue, gue jadi belajar bahwa konsep mengenal diri sendiri itu beneran seumur hidup proses dan perjuangannya. Udah tau yang ini, nanti dibukain lagi hal baru yang lain. Kali ini memang yang dibukakan adalah tentang kondisi mental gue. Abstrak. Gak keliatan. Namun berpengaruh banget ketika gue berelasi dan bersosialisasi dengan orang lain.

Nah, balik lagi ke peristiwa beberes kamar yang akhirnya berujung ngelamunin ambivalen, gue tiba pada pertanyaan: what will I do with my life? Jika Armada mempertanyakan "Mau dibawa ke mana hubungan kita?", gue pun mempertanyakan akan dibawa ke manakah hidup gue saat ini? Mau melakukan apa dan mengambil keputusan apa, Meista?

Dengan kecenderungan gue yang masih (agak) takut, minder, rendah diri, terlalu khawatir, takut salah, semoga di bulan ini gue bisa terus memulai dan tetap melangkah (atau kalo bahasa daerahnya "Keep going!"). Awali setiap hari dengan pola pikir belajar, dan setelah itu tetaplah berjalan maju, segimanapun suasana dan turbulens hati, pikiran, serta lingkungan menyerang. 

Teringat salah satu bagian lirik lagu "Reflection" yang dipopulerkan oleh Christina Aguilera berbunyi seperti ini:

Why must we all conceal what we think, how we feel?
Must there be a secret me I'm forced to hide?

Akan sulit memulai dan melangkah kalo gak dimulai dengan belajar jujur dengan diri sendiri. Faktanya, gue selalu bisa nasehatin diri gue sendiri. Selalu bisa menyalurkan aspirasi lewat tulisan di blog maupun Instagram Story. But when it comes to daily practice, tentu gak semudah apa yang gue tulis. Butuh yang namanya keberanian juga untuk melakukan apa yang udah kita pelajari.

Oke! Saya lanjutkan beberes barang-barangnya di kamar ya bundd.

Terima kasih sudah mau membaca sampai sini! See you next post 🌻

Comments

Popular posts from this blog

Lagu yang Tak Hanya Menyentuh Hati, Tapi Sampai Menyentuh Jiwa

Hanya Bisa Tersenyum Miris

KPM Perkantas 2018: Nimbrung Jadi Keyboardis Eh Dapet Pelajaran Manis

Belajar dari Film "Monsters University": Dari Saingan Jadi Rekan

KISAH SAHABAT (bukan judul film)

GFRIEND COMEBACK 2018: Time For The Moon Night

Pengalaman Ikut Seminar Acara 2019 by Perkantas - Kembali "Ditabok", Gaes!

Kisah Horror Sepulang Nonton Kahitna

Apakah Relasi dengan Sesama Bisa Menjadi Berhala?