Bersedia Dikasihi, Bukan Mengasihani Diri

Photo by Jakob Owens on Unsplash


Salah satu pelajaran berharga pasca patah hati 2020 kemarin adalah akhirnya aku merasakan bahwa aku dikasihi Tuhan.

Wait...seems contradictive, isn't it?

Patah hati...tapi malah merasa dikasihi?

Yep. Memang enggak bisa dimengerti sih kenapa prosesnya sampe begini, wkwkwk. Rasanya kadang ingin berterima kasih sama si teman lantaran jadi pihak yang "terlibat" dalam pelajaran berharga ini. But, no. Tar dia makin kegeeran.

Aku memilih berterima kasih pada Tuhan karena ternyata dibalik badai hidup dan proses yang enggak enak, ada hal baik yang bisa jadi pelajaran berharga. Ya bukan mau sok-sok positif-positif gitu sih, cuma ini memang benar terjadi.

Ketika aku lagi sedih-sedihnya pasca ditolak si kawan itu (sekarang pasti dia nyesel udah nolak aku...WKWKWK GAK DENG CANDA 😝), ada satu buku yang lagi aku baca. Judulnya "Surrender To Love" yang ditulis oleh David G. Benner (by the way buku ini bagus banget! Wajib baca, gaes!). Buku ini menjadi buku penting buatku karena dari situlah aku belajar dan paham bahwa aku ini dikasihi Tuhan. Aku ini salah satu manusia ciptaan-Nya yang berharga. Dan gak ada satu peristiwa buruk pun yang bisa mematahkan fakta ini. Termasuk peristiwa patah hati yang saat itu lagi aku alami.

Jujur, pertama kali aku lihat buku ini kirain akan berbicara tentang pasangan hidup. Ya gimana enggak salah kira, orang cover-nya gambar siluet perempuan sama laki-laki gitu. Terus salib di tengah-tengahnya. Kan pasti dikira tentang mencari pasangan hidup dalam Tuhan. Cuman ternyata buku ini mengajak kita belajar untuk berserah pada kasih Tuhan. Aku ngerti akhirnya kenapa di judulnya ada kata-kata surrender (berserah). Sebagai orang Kristen, salah satu value yang diajarkan dari teladan Yesus adalah mengasihi sesama. That's true. I have no doubt on it. Namun dari buku ini aku pun belajar ternyata ada juga aspek untuk kita berserah pada kasih Tuhan. Berserah untuk mau dikasihi Tuhan.

Ada banyak hal yang kurenungkan ketika membaca buku ini. Kupikir bagian kita adalah terus mengasihi sesama, tanpa sadar sebelumnya bahwa diri ini yang berdosa pun ternyata dikasihi Tuhan. Hanya apakah kita mau dan bersedia untuk menerima tawaran Kasih itu atau enggak.

Dari apa yang menjadi pengalaman imanku, menyerahkan diri untuk dikasihi itu ternyata memang gak semudah teori kekristenan. Di buku itu ilustrasinya seperti mengapung di atas air. Semakin kita insecure dan ngerasa gak aman, semakin tinggi potensi kita untuk tenggelam. Tapi semakin kita melemaskan diri, kita akan mengapung dengan sendirinya di atas air. Air yang akan menopang kita. Nah, salah satu hal yang gak mudah ketika aku mulai pelan-pelan melakukan hal ini adalah mengakui segala kelemahan dan kerapuhanku pada Tuhan. Tepat di saat aku mengalami patah hati tahun 2020 itu, aku sampaikan kesedihan hatiku dan perasaan-perasaan macem tidak berharga, malu, sakit hati, kecewa, dan hal-hal serupa lainnya yang biasanya gak akan muncul di Instagram Story. Well, kecenderunganku pastinya ingin terlihat jadi cewek kuat, dong? Gengsi keleus, udah ditolak terus masa sedih nangis meraung-raung? But not that time. Di kala itu untuk pertama kalinya aku mengakui segala kelemahan dan kerapuhan hati dan diri di dalam doa pada Tuhan. Plus dibantu oleh buku yang lagi kubaca, pelan-pelan aku pun bersedia untuk mau dikasihi Tuhan se-ada apanya aku. Enggak pura-pura setrong, gak pura-pura baik-baik aja, dan...ya mengakui bahwa aku gagal lagi dalam mengusahakan relationship dengan teman lawan jenis. Berawal dari mengakui hal-hal inilah aku pelan-pelan belajar juga tentang: mengasihi diri sendiri.

Kemarin, aku kembali mendoakan hal yang sama. Aku mengakui bahwa aku sebenarnya memiliki ketakutan ketika ingin memulai relasi. Faktornya banyak. Takut mengalami penolakan lagi, takut kecewa lagi, takut gagal, takut gak bisa/gak pantes jadi partner, ya gitu-gitulah. Tapi aku inget lagi sama hal ini: aku dikasihi oleh Tuhan. Akhirnya di doa itu aku mengakui segala ketakutanku, dan aku bilang bahwa aku gak mau memulai segala sesuatu dengan rasa takut. Apalagi dalam hal berelasi. Aku gak mau takut ketika mulai membuka hati. Aku gak mau takut memulai sebuah relasi. Dan aku juga gak mau takut menjalani berbagai proses yang nantinya akan terjadi, gatau kayak gimana. Aku mau stop dikuasai oleh ketakutan dan mulai melangkah dengan penuh keyakinan. Keyakinan bahwa Tuhan udah siapin yang terbaik. Tinggal akunya aja yang mau dan berani melangkah maju, atau tetap berada dalam ketakutan. Tinggal akunya aja yang mau merendahkan diri dan hati untuk minta tolong sama Tuhan, atau tetap stay gengsi ngerasa jadi perempuan paling setrong sedunia.

---

Hal lain yang pernah aku alami dan rasakan adalah mengasihani diri. Ini tuh rasanya kayak...apa ya...merasa bahwa penderitaan hidupku paling berat sejagat galaksi Bimasakti, sehingga harus dikasihani. Aku merasa gak pantas untuk bahagia karena hidupku memang se-miserable itu. Nah terus biasanya kalau udah mengasihani diri, muncul tuh pembandingan-pembandingan diri dengan orang lain. Misalnya kayak: "Tuh, dia bahkan lebih muda dari gue tapi udah nikah dan punya anak. Gue masih aja jomblo sampai sekarang"; "Tuh, dia karirnya bagus banget, sedangkan gue gini-gini aja"; "Keren banget sih hidup dia, pantesan banyak yang suka. Emangnya kayak gue yang gak bisa ngapa-ngapain?"; daaan masih banyak lagi pembandingan-pembandingan diri lainnya.

Well, bersyukur banget bahwa dalam proses dan progresnya aku mulai mengikis hal kurang berfaedah macem mengasihani diri kayak gitu. Efeknya malesin banget. Bikin kita jadi sulit bersyukur.

Pengalamanku ketika mengalami mengasihi diri dan mengasihani diri lambat laun terlihat jelas perbedaannya. Ketika aku mulai mengasihi diri sendiri--yang dilandasi dengan keyakinan iman bahwa akupun dikasihi Tuhan, menerapkan self-love yang sehat, itu artinya aku peduli dengan seluruh aspek kehidupanku dan bertanggung jawab penuh terhadapnya. Aku peduli dengan kesehatan fisik, mental, pikiran, jiwa, hati, bahkan sampai isi dompet alias finansial. Aku peduli dengan apa yang aku senangi dan tidak senangi. Aku peduli dengan emosiku sendiri. Dan aku bertanggung jawab terhadap semua itu. Ada rasa puas dan sukacita tersendiri ketika aku melakukannya. Segalanya terasa cukup, bahkan lebih. Akhirnya ungkapan syukur pada Yang Maha Pemberi pun mudah sekali diutarakan.

Tapi ketika mulai masuk zona mengasihani diri, faktor yang paling terasa adalah ketika aku mulai iri dan sirik dengan kehidupan orang lain; biasanya gara-gara liat status-status Whatsapp, Instagram, atau Facebook mereka. Mulai muncul rasa ketidakpuasan. Susah banget untuk bersyukur dengan kondisi dan keadaan yang lagi aku alami saat itu. Menghirup oksigen dan melepas karbondioksida aja jadi yaudah sekenanya. Taken for granted. Lebih fokus ke: kok hidup dia enak, hidup gue enggak?

Asli, bakal keliatan banget bedanya.

---

Dengan adanya pandemi COVID-19 sejak tahun 2020 entah mengapa membuat aku kayak lagi pausing the life. Semua serba slow motion, seakan-akan manusia diminta untuk tarik rem kehidupan sebentar untuk mempelajari hal-hal yang kayaknya susah dipelajari ketika segala sesuatu berjalan super cepat. Aku salah satu orang yang menikmati fase ini; terlepas dari rasa duka sana-sini yang juga kurasakan ketika dampak COVID-19 melanda kehidupan beberapa orang terdekatku. Penyebabnya adalah karena aku mendapat pelajaran tentang pilihan bersedia dikasihi atau mengasihani diri. Dan pilihan itu tetap terletak di tanganku.

Aku ingin mengutip bagian refrain dari salah satu lagu favoritku di persekutuan--entah nyambung atau enggak sama apa yang aku tulis di atas tapi tadi kelintas aja lagu ini di ingatan, hahaha 😆 (anyway kangen asli gak bohong bisa ibadah bareng lagi 😭 tapi yaudah serba daring gini aja dulu gapapa yahhh...):

Hanya hendaklah hidupmu sesuai dengan Injil-Nya
S'panjang hidupmu di dunia, Roh-Nya pimpin kita

(Dikutip dari Buku Lagu Perkantas no. 232)

Comments

Popular posts from this blog

Lagu yang Tak Hanya Menyentuh Hati, Tapi Sampai Menyentuh Jiwa

Hanya Bisa Tersenyum Miris

The Story Of Mine: Deretan Hadiah Berharga dari Tuhan, Tumpeh-Tumpeh!

Belajar dari Film "Monsters University": Sebuah Refleksi Pribadi

KISAH SAHABAT (bukan judul film)