Posts

Showing posts from December, 2020

Ada yang Tak Kalah Berharga dari Uang

Image
Photo by Jason Leung on Unsplash Halo, Friendtizen! (cie udah lama beut gak nyapa kayak gini di awal blog. Hihihi 😁) Akhir-akhir ini lagi cukup padat mengerjakan tanggung jawab di tempat kerja karena lagi ada beberapa project akhir tahun di kantor. Meski 85% waktu lebih banyak dihabiskan di sana-- and that's okay, still enjoying every circumstances-- aku pribadi tetap berkomitmen pada diri sendiri untuk setia membaca dan menulis. Setidaknya baca 1 subbab buku dan ngepost 1 tulisan di blog setiap 1x setiap pekan. Nah, kali ini sejujurnya ada dua hal di kepala yang pengen banget ditumpahin di blog. Ini yang pertama, yang keduanya nginep dulu di draft yaa 😄 --- Photo by Markus Spiske on Unsplash Weekend kemarin aku dan para atasan serta rekan kerjaku mengadakan annual meeting, atau yang biasa disebut meeting tahunan. Meeting tahunan itu semacam pertemuan rapat panjang yang lebih fokus membahas review kinerja di tahun tersebut, evaluasi, hingga tahap perencanaan untuk tahun mendata

Tetap Melakukan Bagianku -- Sebuah Pilihan dan Komitmen Natal 2020

Image
Photo by JESHOOTS.COM on Unsplash Beberapa hari terakhir ini, ada 1 doa yang berulang kali aku utarakan: "God, I lost my heart. Aku kehilangan hatiku. Sampai taraf tertentu, bahkan aku gak mengenali diriku sendiri. Apakah aku kembali sedang berpura-pura menjadi orang lain? Apakah aku sedang tidak menjadi diri sendiri?" Mungkin beberapa dari kalian udah baca beberapa postingan blog aku yang terbaru. Di tengah situasi sulit yang tengah kualami, aku akhirnya meminta bantuan seorang kakak konselor untuk berkonsultasi. Beliau sangat baik dan sabar ketika menolongku mendefinisikan apa yang tengah terjadi pada diriku sendiri secara perlahan-lahan. Sudah 2 kali bertemu secara virtual dalam konseling, ditambah beberapa kali kami berbincang melalui Whatsapp chat , aku menemukan sepertinya saat ini aku sedang kebingungan. Kebingungan dengan diriku sendiri. Bingung dengan bagaimana aku seharusnya memperlakukan orang lain, dan bingung juga bagaimana aku harus meresponi kenyataan ketika m

"I Will Bring Honour To Us All" - Sebuah Tuntutan

Image
Photo by Sincerely Media on Unsplash "I will bring honor to us all." --- Aku gak tahu apakah setiap manusia akan menghadapi berbagai macam tuntutan dalam hidupnya. Tuntutan yang datang dari dalam keluarga inti, dari keluarga besar, dari kebudayaan --seperti cerita dalam film "Mulan" , atau dari lingkungan sosial manapun tempat kita berada. Tuntutan yang bisa saja mampu kita penuhi, bisa saja tidak. Ketika tuntutan terpenuhi, tentu penerimaan dari 'si penuntut'--siapapun itu, akan terwujud. Kita akan merasa diterima oleh dia/mereka meski mungkin hal yang kita lakukan sebagai tuntutan tersebut bertentangan dengan hati nurani kita. Lalu gimana jadinya jika kita gak bisa memenuhi tuntutan itu? Seperti yang aku tonton dari film "Mulan", tentu ada banyak pengorbanan dan resiko yang besar. Ditolak, harga diri yang jatuh di mata masyarakat, aib, bikin malu, dan lain-lain. Kalo udah kayak gitu sepertinya berbuat hal baik apapun akan selalu jadi salah karen