Ketika Rumput Tetangga Lebih Hijau. Alami atau Sintetis?

Terlalu fokus dengan hidup orang lain.

Sebuah kondisi yang tiba-tiba terlintas di benakku ketika bangun di pagi hari ini.

Melihat beberapa dekade ke belakang (wait...ini umur emang udah berapa? Tua amat sepertinya 😂), aku menyadari bahwa seringkali aku terjebak pada memfokuskan pandangan pada hidup orang lain.

Hidup mereka seperti ini, berbeda denganku. Apakah hidupku salah?

Hidup mereka seperti itu, kok aku tidak begitu ya?

Ketika pencarian jati diri dan karakter pribadi makin kulakukan secara sadar, pertanyaan-pertanyaan itu makin terdengar keras di dalam benakku. Bahkan seringkali peribahasa "rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri" ini terngiang di pikiran. Akhirnya, membandingkan kehidupan pribadi dengan hidup orang lain menjadi hal yang tak aneh lagi untuk dilakukan. Pembandingan yang dibuat bukan hanya mencakup soal materi, tapi juga soal karakter, pencapaian dalam hidup, hubungan relasi dengan orang lain, dan banyak lagi. Sedihnya, aku sempat menganggap bahwa hidup orang lain jauh lebih baik daripada hidupku sendiri. Hidup mereka kelihatannya lebih beruntung daripada yang aku alami. Seperti yang sempat aku tuliskan di beberapa tulisanku sebelumnya, bahwa aku sempat merasa hidupku ini gak ada gunanya. Isinya cuma kesalahan dan gak layak untuk diperjuangkan olehku sendiri. Belum lagi ditambah isu minder dan rendah diri yang tentunya sangat tidak sehat bagi tumbuh kembang karakterku. Dalam pandanganku yang seperti ini, aku belum menyadari bahwa setiap orang sebenarnya diciptakan secara unik antara satu dengan yang lain.

Ketika berbicara soal "rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri", satu hal yang kusadari sempat terluput dari pandanganku adalah: proses. Aku bukan insinyur pertanian. Bukan juga orang yang mahir di bidang perkebunan atau per-cocoktanam-an. Tapi aku cukup paham bahwa tumbuhan seperti rumput bisa tumbuh segar berwarna hijau jika dirawat dengan baik. Jika ia bertumbuh melalui proses yang baik. Namun, di luar sana juga ada jenis rumput yang tidak alami, yaitu rumput sintetis/rumput buatan. Waktu itu aku pernah jalan-jalan ke salah satu supermarket yang menjual bermacam-macam perabotan rumah tangga (sebut saja Ac* Har*w*r*), terus aku lihat mereka menjual rumput sintetis yang biasanya dipakai di beberapa kafe kekinian untuk menampilkan kesan outdoor yang menyegarkan. Atau si rumput sintetis ini juga dipasang menjadi dekorasi photo booth untuk acara-acara tertentu seperti pernikahan, perayaan Natal (ih Natal bentar lagi lho, gaes!), atau selebrasi ulang tahun. Tapi secara keseluruhan, kita enggak bisa membedakan mana rumput yang asli, mana rumput sintetis, jika kita lihat dari kejauhan. Semuanya sama-sama hijau. Yang perlu kita lakukan untuk memeriksa apakah itu asli atau palsu kan harus dilihat lebih dekat. Dilihat apakah si rumput tertanam di tanah, atau menempel pada suatu permukaan semacam karpet?

Dari pemahaman ini aku belajar bahwa kita gak bisa menentukan "rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri" itu dari jarak pandang yang jauh. Butuh pengenalan lebih dalam dan lebih lanjut agar kita bisa memberikan penilaian yang bijaksana. Ketika kita punya pandangan dan penilaian yang bijaksana, aku rasa kita jadi bisa bersyukur karena sebenarnya kita pun punya rumput yang lebih hijau dari rumputnya orang lain, asal pastikan tertanamnya benar-benar di tanah yang baik, yang memberikan pertumbuhan si rumput secara sempurna. Aku jadi ingat salah satu penggalan lirik lagu di album Petualangan Sherina yang berjudul "Lihatlah Lebih Dekat" bunyinya seperti ini:

"Lihat segalanya lebih dekat, dan kau bisa menilai lebih bijaksana."

Untuk generasi 90-an pasti tahu kelanjutan liriknya yakhaan 😂

Waktu demi waktu bergulir, proses demi proses terjadi. Berelasi dengan banyak orang dan berproses di dalamnya membuat pandanganku terbuka lebih lebar secara perlahan. Berbagai macam ekspektasi yang sempat aku 'tempelkan' pada orang-orang yang kukenal perlahan luntur seiring dengan pengenalan yang mendalam terhadap mereka dan kehidupannya. Begitu juga pengenalan terhadap diriku sendiri. Yang tadinya aku merasa hidupku menjijikkan--which is true karena aku pun cuma manusia berdosa--sekarang aku mulai belajar untuk menerima diriku sendiri. Berdamai dengan diri sendiri. Aku pernah menuliskan sedikit prosesnya di sebuah media pelayanan anak muda yang kunikmati sejak lama, WarungSaTeKaMu.org . 

So, instead of membandingkan rumput hidup sendiri dengan rumput kehidupan orang lain, aku rasa ini saat yang tepat untuk melihat apakah rumput kehidupan kita sudah tertanam di tanah yang baik sehingga bertumbuh, atau tertanam di tempat yang tidak membuat kita bertumbuh? Atau malah kita gak merawat rumput kehidupan kita sama sekali? Ini pun menjadi pertanyaan refleksi pribadi buatku, si perempuan yang hobinya melihat + merasa kehidupan orang lain lebih baik dari kehidupan pribadinya.

We have our own journey, our own life adventure. Kita hidup di bumi yang sama, dengan kisah yang berbeda. Ketika tengah menghayati hal ini, aku pun juga akhirnya berpikir bahwa: tetap enggak apa-apa kok untuk terinspirasi dengan "hijaunya rumput" kehidupan orang lain. Namun untuk menuju "hijau" yang sama, kita mesti lihat proses seperti apa yang telah dia lalui. Teladani hal baiknya, jangan ikuti hal buruknya--aku rasa kita semua sepaham bahwa manusia memiliki sisi baik dan sisi buruknya, kan? Terinspirasi dengan kehidupan orang lain: boleh. Ingin menjadi sama plek-plekan: jangan. Karena kita masing-masing punya cerita yang berbeda, punya petualangan hidup yang berbeda.

So stop comparing our life to other's life. Apalagi cuma membandingkan dari status-status Instagram Story. Jangan yaa 😁

Comments

Popular posts from this blog

Lagu yang Tak Hanya Menyentuh Hati, Tapi Sampai Menyentuh Jiwa

Pengalaman Gokil Sebagai Mentor (PGSM)

7 Hal yang Gue Lakukan Ketika Depresi

Hanya Bisa Tersenyum Miris

Mendingan Jujur Tapi Nyakitin, Atau Bohong Tapi Lama-Lama Tetep Nyakitin Diri Sendiri? (sungguh sebuah judul yang amat panjang)

Menyesal: Gak Bisa Dihindari, tapi Bisa Dihadapi

Menemukan Makna Seru dari Pemuridan

SARAPAN PAGI: Berserah yang Tidak Menyerah

Udah Lama Enggak Nulis Blog