Posts

A Request for Forgiveness and Freedom (Dealing with Regret & Shame)

This morning I realize that I'm on the phase of dealing-with-regrets-and-shame. I've re-written my old story here , dan tersadar bahwa: buset, udah berapa kali cerita ini gue tulis di mana-mana? Ini ada apa? Kenapa masih aja keinget? Isunya ternyata ya ada di efek jangka panjang itu. Efeknya membuahkan sebuah penyesalan dan rasa malu yang berkepanjangan. Gue udah totally move on. Udah ada yang baru juga bahkan. Tapi justru kehadiran "yang baru" ini yang menyadarkan gue bahwa gue belum kelar dengan penyesalan dan rasa malu akibat apa yang pernah gue lakukan di masa lalu. So, this morning I'm trying to ask God sincerely to heal and take my regrets & shame, and ask for forgiveness. I need His help to forgive myself, to forgive my failure, to forgive my stupidity. --- Lord of Heaven & Earth, I'm ready to accept Your forgiveness I'm ready to forgive myself I'm ready to admit that I feel the long-term effect of regrets & shame I'm ready to be

Kejujuran: Sebuah Luka dan Bayar Harga—Para Cewek Pikir-Pikir Lagi Kalo Mau Menyatakan Perasaan, Hehe

Image
Peristiwa penolakan yang terjadi di masa lalu ternyata bukan hanya sebatas menimbulkan luka dan trauma, melainkan perubahan pola pikir; khususnya dalam konteks bagaimana diri sendiri menilai serta memandang diri sendiri. Tulisan ini aku dedikasikan khusus buat para cewek-cewek yang mungkin konteksnya saat ini lagi suka sama cowok. Tapi memang hati-hati, jangan sampe tulisanku ini langsung dijadikan best practice  tanpa melihat bahwa setiap kita (khususnya para cewek) itu punya karakter, kepribadian, pola pikir, dan respon yang berbeda ketika menghadapi fenomena yang sama: menyukai seseorang dari kaum Adam. --- Menyukai teman lawan jenis itu bisa gue bilang sebuah anugerah ya. Itu berarti kita diciptakan memiliki emosi, perasaan, dan bukan sebagai ras robot yang segala sesuatunya lempeng-lempeng aja gitu. Dalam perjalanan dan petualangannya, kita para cewek pasti punya kisah dan cerita masing-masing ketika ada di fase ini. Balik lagi: characters matters . Ada yang easygoing  santuy-mant
So...there are things you can't control, right? I often told myself to "trust your gut!", tapi kadang ragu juga itu beneran insting atau cuma insecure. Di sisi lain, positive thinking pun punya konsep yang berbeda dengan mempositif-positifkan kondisi yang memang tidak positif. But whatever it is...the only thing I can put my trust and faith now is only The Owner of Heaven and Earth. Almighty GOD. I will keep going, doing my best in everything I can do, then I'm allowing God to do His part in my life. Surrender...is the key to truest joy and serenity.
Accept it is as it is. Nasehat utama dari psikolog yang pernah gue konsultasiin. Sedang berlatih pelan-pelan untuk menerapkan mindfulness  dan gak perlu melulu menilai kondisi, situasi, dan orang lain terlalu cepat. Ini kayaknya esensi dari "menikmati hidup". Bukan artinya hidup lurus gatau mo kemana, tapi ya enjoying the present as a present. Seringkali yang bikin jatuh adalah ekspektasi. Jadi ketika gue udah bikin perencanaan dan rencana itu gak sesuai realita, usaha terasa sia-sia. Nah sekarang, gue mau coba untuk bangkit lagi, tetep bikin perencanaan lagi, tapi lebih legowo aja kalau hasilnya gak sesuai ekspektasi. Yang penting udah ada usaha. Kayak...ya yaudah. Ayo, maju terus. Melangkah lagi. Kalo capek istirahat. Kalo sedih nangis. Mungkin ini bisa jadi terapi diri sendiri yang baik untuk mengurangi intensitas rasa insecure dan FOMO yang seringkali mengganggu 😔

Emangnya Gue Se-Ngegas Itu?

Image
Sebenarnya gak nyari yang sempurna juga. Apalah arti sempurna ketika gue juga bukanlah seseorang yang sempurna. Yang dicari adalah dia yang gak main-main sama hati perempuan. Ya..memang gue pribadi gak bisa tahu dan gak bisa bedain (dan gak bisa peka, to be honest ) mana yang memang motivasinya main-main, mana yang lagi cek ombak, mana yang 'sok asik' dan seru padahal memang dari sananya udah begitu (maksudnya ya gak berarti dia suka sama gue juga), mana yang memang ya tulus mau berteman. Cenderung polos, tapi gak bego. Tapi somehow bisa peka juga. Hahaha sebenarnya males sih ya kalo udah bahasan yang gini-gini lagi. Gue sadar gue dianugerahi kepekaan, tapi terakhir kali gue peka, dan ternyata kenyataan tidak sesuai ekspektasi, hancurnya banget-banget. Salah tafsir. Udah seneng banget ternyata ni orang mau berteman sama gue dan terbuka juga sama kisah hidup masing-masing (meski gak semua ya, seengganya gue dapet sense bahwa gue dipercaya sama cerita-cerita dia. Itu aja udah sen
Cukuplah kasih karunia-Nya bagiku, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Nya menjadi sempurna. -Paul

I Quit

Image
Berhenti. Berhenti untuk menganggap bahwa diri ini mampu mengerjakan segala sesuatunya tanpa batas. Berhenti untuk punya pemikiran bahwa diri ini tak layak mendapat pertolongan. Berhenti untuk memaksakan diri terlalu keras untuk melakukan hal-hal yang memang sudah di luar batas dan kemampuan. Berhenti untuk menilai diri, "Lo masih kurang berusaha, Mei. Resiliensi lo rendah. Jangan lemah!" Sampai akhirnya...dirinya lelah. Nyatanya, diri ini memang lemah. Helpless. Powerless. Gak punya daya dan kekuatan apa-apa untuk mengontrol hidup bahkan untuk hal sekecil apapun. Nyawanya sendiri pun gak ada dalam kontrol tangan sendiri. Yang bisa dilakukan sebenarnya hanyalah melakukan tanggung jawab kehidupan sesuai porsi, kapasitas, dan bersandar pada Lengan yang Kekal. Semudah itu? Enggak. Bayang-bayang kehidupan yang sudah di- framing sedemikian rupa dalam kepala nyatanya hanya menciptakan sebuah ilusi bahagia yang tak terealisasi. Menciptakan asumsi yang tak terverifikasi. Mendatangkan
Being (too) independent is dangerous, somehow. Lord of Heaven and Earth, help me to recognize Your guidance and help me to encounter the loneliness.

A Short-Sunday Reflection

"Tuhan selalu hadir untuk kita, Tuhan selalu menolong kita. Meskipun tentu cara-Nya tidak selalu sama seperti yang kita mau." Kata-kata dalam doa yang di- mention  sama pak pendeta ini bikin gue tiba-tiba berlinang air mata. Gak biasanya gue berdoa pas ibadah Minggu di gereja sampe nangis; tapi kali ini denger 2 kalimat itu langsung basah pipi gue. Why? "...tentu cara-Nya tidak selalu sama seperti yang kita mau." Lebih mudah percaya kalau Tuhan pasti akan menolong kita, tapi butuh bergumul dan merenung kembali (bagi gue pribadi) untuk percaya bahwa jenis pertolongan Tuhan gak sama dengan ekspektasi/harapan gue. --- Lately gue lagi belajar lagi tentang memasang ekspektasi. Dari tahun ke tahun gue sering dapet pelajaran berharga terkait ekspektasi pribadi terhadap berbagai hal. Seringkali, ekspektasi ini membuat gue jadinya membuat 'skenario hidup' sendiri yang menurut gue itu terbaik buat gue. Sampai pada tahap yang lebih ngotot ya gue jadi ngerasa "renc

Belajar dari Sebuah Kondisi Saat Kita yang Bukan Pegang Kendali

Image
Salah satu challenge jadi pemain musik untuk kegiatan ibadah/gereja adalah: pamer skill. Kalo bukan pamer skill, seenggaknya pasti ada perasaan atau pemikiran yang pernah terbesit seakan-akan permainan musik yang dilakukan itu buat "konser"; to showing off that we can play the music well. Zero mistakes. Smooth composition-intro-ending-bla bla bla. Butuh waktu yang gak sebentar bagi gue pribadi untuk berproses dalam hal ini. Dimulai dari masa-masa ikut persekutuan di kampus, sampai sekarang udah umur nearly 30 masih diminta tolong jadi pemusik tuh gue tetep ngerasa I'm still on the process; untuk punya mindset dan pemahaman bahwa: "Lu main musik bukan buat konser, cuy. Peran lu gimana caranya komposisi musik yang dimainkan—mau seheboh atau sesimpel apapun aransemennya—bisa 'mengantarkan' jemaat nyanyi dari hati buat nyembah Tuhan." Apalagi dalam konteks main musik buat ibadah/gereja ya. Gak gampang, I know. Hahaha. Sebuah proses yang panjang untuk seorang