Posts

Takut Ditinggal dan Takut Kehilangan

Image
Takut kehilangan relasi. Takut kehilangan kasih sayang dari orang-orang terdekat. Takut kehilangan kepercayaan dari orang-orang di tempat kerja. Takut kehilangan pekerjaan. Takut kehilangan diri sendiri. Takut kehilangan komunikasi dengan orang-orang yang dikasihi. Takut kehilangan momen bersama orang-orang yang dikasihi. Takut ditinggalkan. Takut dijauhkan. Semuanya dimulai dengan kata: "takut" . ----- Rabu, 10 Agustus 2022 Hari ini lagi minta izin WFC (Work From Cafe) karena mau ketemu temen dekat yang dalam pekan ini akan berangkat ke negeri Paman Sam untuk studi lanjut. Dia adalah salah satu orang yang "gue pilih" untuk menunjukkan sisi ter-rapuh dan terlemah gue, and thank God  kita berdua sama-sama memilih untuk tumbuh bersama sebagai saudara dalam Kristus (terima kasih pemuridan kampus yang mempertemukan kami! Bertemu dengan Christiani Sagala dan Kak Masniar Elysabahtini menjadi salah satu warna terindah dalam hidup gue karena lewat kelompok kecil ini gue dii

The Useless Thing

Image
Selasa, 9 Agustus 2022 Semua masih terasa cukup "jetlag"  ketika mengalami atau melihat banyak hal terjadi dalam waktu bersamaan. Belum genap sepekan adaptasi di tempat hidup yang baru. Baru aja membuka diri untuk rekonsiliasi dengan beberapa teman dekat. Menyesuaikan ritme hidup untuk masing-masing aspek (pekerjaan, aktivitas pelayanan, berelasi sama keluarga, berproses dalam sebuah pergumulan, dan lain-lain). Semuanya kadang bikin sakit kepala karena pertanyaan yang sering muncul adalah: "Ini yang mana dulu dah yang harus gue kerjain? Mana yang harus diprioritaskan?" ...karena semuanya terlihat penting dan harus dinomorsatukan. Respon apa yang muncul pertama kali? Khawatir. --- Hari Selasa kemarin seperti biasa tiap bangun pagi di kepala gue sudah satsetsatset memikirkan rancangan life flow apa-apa aja yang perlu gue kerjakan dan urus di hari itu. Salah satu agendanya adalah meeting rutin dwi-mingguan dengan pimpinan gue jam 10 pagi . Sejak malam sebelumnya, si Me
Kataku hari ini pada diri sendiri: "Meista, gapapa loh untuk bikin kesalahan (dalam konteks ketidaksengajaan). We all do. Don't push yourself too hard to please everyone, because...they won't be. They won't be pleased by any kind of your "perfection". Just do your part well, dan tetap jadi diri sendiri. You can do it today! " 💜

A Weekend True Story

Image
Minggu, 7 Agustus 2022 21:48 Menikmati punggung yang panas abis dikerok mama lantaran gaenak bodi gegara sakit kepala akibat nangis semaleman dan tidur gak nyenyak. Kenapa sih lo? Ada apa sebenarnya? ----- Masing-masing orang punya caranya sendiri dalam berekspektasi. Masing-masing orang, juga punya caranya sendiri dalam meresponi ekspektasi yang tidak terealisasi. Hal-hal yang "dipasangkan" ekspektasi pun bisa beragam, tergantung dari apa value yang dianut oleh masing-masing orang. As for me, relationship and friendship become my top/highest value in my life. Ketika diberi kesempatan untuk berelasi dengan orang lain, mungkin ini dalam konteks pertemanan, gue akan masukkan itu ke dalam skala prioritas kehidupan gue. Apalagi, jika gue menilai bahwa relasi tersebut layak gue perjuangkan (emang ada relasi yang gak layak diperjuangkan? Ya ada. Relasi yang taken for granted gitu; yang datang dan pergi gitu aja). I thought...the relationship that I will tell in this story ada dalam

Segalanya "Tau Gitu..."

Tau gitu gausah terlalu semangat. Tau gitu gausah sampe berkali-kali memastikan jadi-tidaknya pertemuan. Tau gitu gausah dateng on time. Tau gitu gausah berekspektasi bisa cerita-cerita. Tau gitu gausah searching2 tempat sedari kapan tau. Tau gitu gausah capek2 keliling mal demi nyari tempat yang nyaman buat bersama. Tau gitu mending urusin perut sendiri dulu ketimbang "pengen makan bareng temen2". Tau gitu dibikin flat aja hatinya, gausah semangat2 amat. Tau gitu biasa aja orang ini juga relasi yg kayaknya biasa aja. Tau gitu ini bisa dilihat sebagai relasi yg permukaan aja, gak harus yg terlalu dalem apa gimana biar gak berekspektasi. Tau gitu... ----- Semuanya serba "tau gitu" kalo hati lagi kecewa. No one told me to muter-muter ngider-ngider mal segede gaban buat nyari tempat paling kondusif buat bersama. Yeah, no one told me. Gue aja yang terlalu inisiatif. Tau gitu...gak usah inisiatif. Biasa aja.  No one will understand everything I felt because...no one told
TUHAN gak sibuk. Yang sibuk manusia.
It's scary...to be rejected because I'm trying to be myself. Sometimes I have the courage, but other times I don't. I can't insist people to understand me more than I am (even more than God understands me), but the fear of rejection is a real thing. That feeling is real. There are times when I can feel safe and rest assured that I'm—the sinner—totally accepted and loved by God. But now, I just can't enjoy that truth—that God will never reject me because I'm acting authentically to become my true-self.
Kenapa gue suka tiba-tiba punya pemikiran bahwa gue takut menyesal menjadi diri gue yang sekarang? Takut menyesal padahal sebenarnya yang perlu gue lakukan hanyalah "ya melangkah aja, lo gak luput dari kesalahan juga kok" . Kocak dah. Random banget. Landasannya: takut . Dan kakak psikolog yang pernah follow up gue pernah bilang: Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan berlandaskan rasa takut, itu enggak baik, Mei.

Kenapa Takut Nikah?

Terlepas dari karena alasan-alasan 'masa lalu', baik yang terjadi pada diri sendiri maupun melihat sendiri pernikahan-pernikahan yang...gitulah,   deep inside my heart   ketakutan yang juga gue sadari adalah: Gue takut keberadaan gue jadi batu sandungan buat pasangan gue kelak. I don't know why, but it's real. That's what I feel. Kedengerannya kayak kurang percaya diri gitu ya, tapi...ya entah mengapa rasanya lebih sakit aja buat gue kalau ternyata hidup gue malah jadi salib menyakitkan buat orang yang gue cintai seumur hidup. Second ago I pray like: "Tuhan, kalau keberadaan aku malah jadi pengganggu, batu sandungan, dan gak jadi berkat buat teman (hidup)-ku, I'd rather not to marry anyone."