Posts

Tinggal di Tempat Baru—Sebuah Proses Discerning yang Bikin Dagdigdug

Image
Sebelum nulis ini, gue nangis di kosan. Namun kali ini bukan nangis gegara patah hati. Bukan nangis gegara cowok yang gue suka menolak perasaan gue. Bukan gegara hal-hal yang menyakitkan dan mendukakan hati. ...tapi karena serentetan doa yang terjawab. ...karena gue secara personal merasakan sendiri Tuhan itu ada dan nyata meski tak terlihat. ..karena gue sekarang mulai paham bahwa Tuhan hadir di tengah-tengah kehidupan gue, baik dalam hal yang biasa gue anggep sepele-receh- taken for granted , maupun hal-hal besar yang menurut gue gak make sense. ...karena serentetan doa yang Dia jawab. ----- Singkat cerita gue baru balik dari rumah papa di Ciledug dan baru sampe kosan. Abis beres-beresin londrian, unpack  ransel, seperti biasa gue suka randomly auto-kontemplasi sendiri pas lagi ngeliat kamar kosan. I do remember bagaimana segelintir proses gue bergumul untuk tinggal sendiri itu lumayan melelahkan hati, emosi, dan pikiran. Mulai dari perasaan insecure , gak tahu mulai dari mana, gak y
Apa gue yang terlalu idealis ya? Apa gue yang terlalu perfeksionis ya? Apa gue yang terlalu banyak ngeluh ya? Apa gue yang terlalu sering protes ya? Apa gue harusnya lakuin bagian gue aja dan gak usah peduli sama apa yang terjadi ya? Apa gue harusnya gak peka sama "red flags" dalam kehidupan ini ya? ----- Also me: Ya gak semuanya harus disalahin ke diri lo juga, beb. Dalam dunia ini...ada orang-orang yang memang perlu bertumbuh dalam bagiannya masing-masing juga. It doesn't mean "elo gak bisa kerja". Bisa kok, bisa. Minta hikmat sama Tuhan, deh. He knows what to do. He knows what you should do. Ngopi dulu.
"Even good things can be driven by fear." - Raisa Ayuditha Marsaulina - (Sabtu, 17 September 2022)
Berkata pada diri sendiri: "Mei, give them a chance to grow as well. Di dunia ini bukan cuma lo yang layak untuk bertumbuh. Orang-orang yang ngeselin, nyebelin, gak idealis di mata lo, yang gak memenuhi ekspektasi lo (baik mereka yang lebih tua-seumur-lebih muda), juga memiliki hak kelayakan yang sama untuk bertumbuh. Dan berubah... Mungkin mereka gak akan berubah menjadi seperti yang lo harapkan, tapi mereka layak untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari diri mereka sebelumnya. Got it?"
...because present is a present 🎁.

Si "Piano Princess"

Image
Pagi ini di kantor...ada temen yang pasang lagu Vierra. Jujur sampe sekarang gue memang masih suka banget sama lagu-lagunya Vierra. Enak banget komposisi musiknya Mas Kevin Aprilio! 😍 Terus gue jadi  throwback... ke masa-masa ketika gue lagi tergila-gila sama lagunya Vierra, di saat yang sama juga gue tengah suka dengan seseorang. Dia kakak kelas (kakak kelas lageeee, yekan 🤣🤣🤣). Dia pemain drum. Beberapa kali pernah nge-band bareng dan...yah memang momen-momen main musik tuh suka jadi celah bagi gue pada akhirnya menyukai seseorang. Turns out... gue jadi merenung: Selama ini cowok-cowok yang gue lirik itu pasti yang bisa main musik. Beberapa diantaranya jago bahkan dewa banget sampe bikin hati klepek-klepek. Yang jago main piano pernah gue lirik--yaiyalah, ini sih udah pasti bawaan karena pasti liat role model ayah sendiri yang juga jago main pianonya, guru pulak! Terus yang jago main gitar juga pernah gue taksir. Kemudian yang di masa-masa suka Vierra ini gue naksir sama senior y
Thank you, self, for validating our own emotion 🤗 Lega kan lega kan lega kaaaaaaaaaaaaaaaaaan! 😆 Pertama, udah berani ngomongin ini ke orang lain, which is sebelumnya pasti ngerasa malu, bego, aneh banget ngapain sik pake dicerita-ceritain segala..rangorang juga pasti gak bakal relate. Tapi ternyata menceritakannya menjadi langkah terbaik ketimbang dipendem sendiri, terlepas dari apapun respon dari orang-orang yang gue ceritain (even I don't have problem with their responds at all! They're so kind 😭 I don't expect anything but I'm sure I choose the right people). Kedua, kelegaan hari ini kiranya menolong gue untuk makin mengurang-ngurangi buruk sangka atau negative thinking sama orang lain. Ketiga, penasaran gimana respon mama papa kalo gue ceritain hal ini 😂. Gue yakin mereka gak bakal marah sih. Paling cuma aneh dan heran aja kok gue bisa punya keinginan kayak gitu 😅 Dari kecil pula. Dan baru diungkapnya pas gede, wkwkwk. Yah... it's relief... ketika bisa mem

My deepest desire of something that I'll never get in life

Image
We can replace the "something" with "someone", on the post title, because that's the truth. There's a deepest desire that I acknowledged this morning, and...I'm also aware that the desire won't be accomplished for the entire of my life. I was longing for an older brother; in the context of having a sibling. ----- Jadi tadi pagi gue lagi scroll Reels IG terus nemu konten ini . Tiba-tiba pikiran gue kayak tersentak gitu, terus gue nangis. Ke- trigger  banget. Awalnya gue pikir gue nangis karena terharu aja ngeliat keunyuan si anak kecil laki-laki yang lagi gendong adik perempuannya. Tapi setelah gue renungkan lebih lanjut...gue sadar gue punya satu hasrat atau keinginan besar sedari kecil yang gak pernah gue "selesaikan" sama diri sendiri: gue pengen punya kakak laki-laki/abang. Menyadari hal ini gue langsung nangis, gak bohong. Di samping gue memang punya perasaan yang sangat sensitif, gue nangis karena ternyata gue masih menyimpan desire  y
AGAIN! Hari ini memulai meeting bareng atasan dengan overthinking. Selalu badmood memulai hari (tiap ada meeting bareng beliau) lantaran berpikir: "Aduh, gak mateng banget sih persiapan meeting gue..." Di bayangan tuh udah kayak meeting2 perusahaan di pelem-pelem pada umumnya. Si Meista lupa dia lagi kerja di start-up yang fasenya bener-bener masih development. Jadi yang dibutuhkan tuh ide, ide, ide, kreativitas, dan strategi. Bukan presentasi PPT yang wawaw ulala. Akhirnya cuma bikin poin-poin diskusi yang on-point, and...ya gitu. Going smooth aja diskusinya. Guenya aja yang terlalu ambis. Terus capek sendiri, LOL. Sungguh overthinking yang amat sangat tidak penting karena itu menguras energi internal gue banget, huh! Tuhan Yesus baik banget lah udeh. Kayak...yang ribet tuh pikiran Meistanya, bukan realitanya. Seringkali...ternyata apa yang dibayangkan pikiran kita jauh lebih mengerikan daripada realitanya. Belom juga menghadapi realita yang gimana-gimana, di kepala bayangan
Coba nih ya, biasanya gua kalo memutuskan ikut kamp itu kudu di- trigger  sesuatu atau seseorang; antara karena guenya dilibatkan pelayanan, atau karena ada bestie gue di sana. Sekarang mau ngetes dan menguji hati untuk ikut sebuah kegiatan yang dimotivasi karena kebutuhan. Yah, kelihatannya momennya sangat tepat untuk gue ikut acara ini di masa-masa "istirahat pelayanan"--konteks pelayanan yang literally melayani di ladang rohani. Masih fase ambil jeda dan istirahat, kayaknya pas kalau gue ikut acara ini. Pas banget juga untuk menguji hati dan motivasi. Karena...ya jujur aja lately gue lagi nyadar bahwa ternyata gue sering jatuh ke motivasi yang gak baik-baik amat kalo lagi terima pelayanan. Despite of I realize that I have my own-given-capacities,  sering juga motivasinya karena 'merasa dibutuhkan'. Nah, sekarang fasenya kebalik, gue yang lagi membutuhkan orang lain. Gue yang lagi butuh pertolongan. Dan di fase "istirahat pelayanan" ini kiranya gue bisa be